Holding BUMN Tambang Harus Naikkan Optimisme Investor

Mohammad Adam    •    Kamis, 30 Nov 2017 17:08 WIB
holding bumn
<i>Holding</i> BUMN Tambang Harus Naikkan Optimisme Investor
Ekonom Aviliani. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Jakarta: Empat perusahaan penambang pelat merah yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) alias Inalum resmi bergabung membentuk konsosrsium Badan Usaha Milik Negara sektor tambang.

Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyatakan langkah pemerintah menyatukan BUMN sektor tambang di bawah naungan induk atau holding yang dipimpin Inalum itu harus menambah optimisme investor.

Apalagi, tiga BUMN yang menjadi anggota holding itu tetap berstatus perusahaan terbuka.

"Sebenarnya holding itu bagus. Kalau kita lihat dari sektor yang bersamaan kemudian yang terintegrasi, saya rasa itu langkah baik. Cuma memang proses valuasinya itu nanti harus menimbulkan kepercayaan supaya harga sahamnya tidak jatuh," ujar Aviliani saat dihubungi, Kamis, 30 November 2017.

Ia pun mengingatkan, hal ini penting lantaran anak perusahaan holding BUMN tersebut memang sudah perusahaan terbuka. Selain itu, dalam proses operasionalnya holding tersebut mungkin juga perlu lebih meyakinkan.

"Kalau sekarang kan orang lebih menyorot holdingnya tapi belum kelihatan holding ini ke depan mau melakukan apa. Kemudian bagaimana orang yang sudah membeli sahamnya itu juga mendapat keuntungan. Mereka kan juga tidak mau dirugikan dengan holding terkait salah satu perusahaan yang sudah berstatus Tbk," kata dia.

Adapun rencana holding BUMN Tambang untuk mengakuisisi saham PT Freeport Indonesia, merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang menginduk pada Freeport McMoran Inc di Amerika Serikat, Aviliani berharap hal itu dapat terwujud dengan dibarengi kemampuan untuk mengelola.

"Sekarang orang masih melihat bagaimana sih kemampuannya untuk mengelola. Jangan sampai itu (Freeport) diambil alih tapi di belakangnya tetap asing juga. Kan itu juga menjadi masalah," tambah dia.

Menurut dia, holding itu memang menyatukan beberapa perusahaan. Tapi belum tentu kemampuan finansialnya bisa untuk mengelola Freeport. Meski demikian, ia melanjutkan, masalahnya bukan pada siapa yang mengelola. Tapi bagaimana pihak Indonesia bisa mengoptimalkan keuntungannya.

"Kalau kita memang belum punya kemampuan ya tinggal bagaimana dengan yang ada ini bisa membuat kesepakatan yang saling menguntungkan," pungkasnya.

 


(AHL)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA