Indef: Kualitas Pengelolaan Investasi Asing Perlu Diperbaiki

Ilham wibowo    •    Kamis, 07 Feb 2019 17:46 WIB
investasi asing
Indef: Kualitas Pengelolaan Investasi Asing Perlu Diperbaiki
Illustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN.

Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kualitas pengelolaan investasi asing belum cukup untuk mengakselerasi perekonomian nasional. Pertumbuhan dalam negeri pada 2018 sebesar 5,17 persen mestinya lebih tinggi di tahun mendatang. 

"Investasi tidak berkualitas kenapa? Dari realisasi per sektor misalnya, pengolahan itu turun sementara sektor jasanya tinggi sekali," ujar Peneliti INDEF Aryo Dharma Pahla Irhamna dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019. 

Catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang 2018 realisasi investasi sektor pengolahan hanya mencapai Rp222,3 triliun. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding realisasi investasi sektor jasa sebesar Rp366 triliun.  

Menurut Aryo, pengelolaan investasi di Tanah Air masih hanya terfokus pada nilai yang dicapai. Padahal, sektor industri mestinya mendapat porsi lebih terutama dalam menggenjot produk berorientasi ekspor yang berdampak langsung dengan neraca perdagangan. 

"Foreign direct investment (FDI) itu lebih dari investment value dan investasi di Indonesia itu kebanyakan market-seeking atau resource-seeking. Problemnya itu jadi tidak export oriented tapi malah import," paparnya. 

Penerapan pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS) juga belum berperan signifikan. Aryo memandang masih banyak tantangan internal yang perlu dibenahi dalam menumbuhkan investasi. 

"Kalau saya liat ada faktor internal juga karena sejak 2018 OSS dipindahkan ke Kemenko Perekonomian. Bahkan kalau mau mengurus OSS pertengahan bulan lalu dapat nomer antrian saja harus dari pagi karena bukan tupoksi Kemenko untuk mengurusi teknis,"ungkapnya. 

Pengelolaan investasi yang masih lemah juga disoroti dalam penerapan transfer teknologi. Produk otomotif hingga pengolahan hasil tambang, kata Aryo, industrinya sejak lama digunakan akan tetapi Indonesia belum mampu menciptakan produk sendiri. 

"Tidak ada transfer teknologi, mobil nasional juga enggak jalan. Jadi untuk pemerintah yang terpilih nanti adalah sebuah isu yang fundamental mengenai investasi," pungkasnya. 


(SAW)