6 Upaya Kementan Mendorong Regenerasi Petani

M Studio    •    Sabtu, 07 Oct 2017 21:12 WIB
berita kementan
6 Upaya Kementan Mendorong Regenerasi Petani
Ilustrasi petani (Foto:Antara/Arif Firmansyah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Saat ini, minat generasi muda untuk berprofesi sebagai petani, terbilang minim. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan enam upaya agar terjadi regenerasi petani.

Pertama, transformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian. Kementan memiliki enam STPP yang tersebar di Medan, Bogor, Malang, Magelang, Gowa dan Manokwari, yang akan ditransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

“Enam STPP yang tadinya program studinya hanya penyuluhan yaitu penyuluhan pertanian, penyuluhan perkebunan, dan penyuluhan peternakan, akan ditambah program studinya seperti berorientasi agribisnis hortikultura, agribisnis perkebunan, mekanisasi pertanian. Dengan demikian, ke depan akan bertambah generasi muda yang disiapkan untuk menjadi petani sekaligus pelaku usaha pertanian,” kata Kepala BPPSDMP, Momon Rusmono, di Jakarta.

Khusus STPP Magelang, program studinya berada di 2 provinsi yaitu program studi peternakan berada di Magelang dan program penyuluhan pertanian di Yogyakarta. Karena itu, dalam rangka mendukung percepatan regenerasi petani, STPP Magelang akan di pecah sehingga STPP Magelang akan menjadi Politeknik Pertanian Magelang dan yang di Yogyakarta menjadi Politeknik Pertanian Yogyakarta.

“Sehingga, yang tadinya enam STPP, menjadi tujuh. Begitu pun yang SMK PP, kita akan tingkatkan statusnya. Yang tadinya SMK Pembangunan Pertanian, juga menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian. Sehingga, yang tadinya enam plus tiga. Ke depan kami akan punya 10 Politeknik Pembangunan Pertanian yang berorientasi pada program studi ilmu pertanian terapan dalam rangka regenerasi pertanian,” ujarnya.

Kedua, Momon menyebutkan Kementan menginisiasi Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian bagi alumni perguruan tinggi pertanian. Kegiatan tersebut bersinergi dengan 16 perguruan tinggi negeri (PTN). Ketiga, pelibatan mahasiswa/alumni/pemuda tani dalam pendampingan/pengawalan program-program Kementan.

“Keempat, menumbuhkan kelompok usaha bersama (KUB) di bidang pertanian bagi pemuda tani. Kelima, pelatihan dan magang bagi pemuda tani. Kemudian keenam, mendorong penyuluh untuk menumbuhkembangkan kelompok pemuda tani," sebutnya.

Transformasi STPP menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian, berhasil memancing minat generasi muda.

"Pada tahun ini, walaupun namanya masih STPP, begitu mendengar mau transformasi, peminatnya langsung melonjak menjadi 10 ribu orang. Awalnya, kami hanya menerima sekitar 900-an orang. Tapi sekarang peminatnya banyak,” ujar Momon.

Pada 2017, STPP seluruh Indonesia menerima mahasiswa sebanyak 1.200 orang. Target tahun 2021, mampu menerima sekitar 3.600 orang pada satu angkatan. "Ketika lulus, mereka akan menjadi wirausahawan muda,” kata Momon.

Kementan akan meningkatkan penyediaan sarana prasarana. Proses pembelajaran lebih banyak dengan teaching factory, baik sektor peternakan, hortikultura, perkebunan, tanaman pangan, dan juga pengolahan, dan sebagainya. Harapanya, peserta didik betul-betul memahami proses pembelajaran dari mulai perencanaan sampai dia bisa memasarkan dalam satu kesatuan dunia industri.

"Diharapkan, mahasiswa betul-betul belajar dalam situasi nyata dalam urusan pertanian. Nanti kita bangun masing-masing politeknik ini membangun teaching factory. Makanya, selain kami membangun teaching factory, kami bangun dengan dunia usaha, dunia industri, dan juga Litbang di pertanian,” tuturnya.

Ide  transformasi ini sudah mulai diterapkan sejak 2016, sehingga minat generasi muda terjun ke sektor pertanian mulai naik. Ini terlihat dari penerimaan mahasiswa di luar pegawai negeri sudah ada. Kemudian, proses pembelajaran, walau masih program studi penyuluhan, bobot bersubstansi wirausahawan muda telah ditingkatkan.

Lebih lanjut Momon menjelaskan untuk mengubah atau transformasi, ada beberapa upaya. Selain pengembangan program studi, juga orientasi lulusan harus diubah. Dahulu STPP lebih banyak mendidik para penyuluh yang sudah berstatus PNS. Ke depan nanti tidak hanya penyuluh, tetapi juga menerima lulusan-lulusan SLTA, lulusan SMK Pembangunan Pertanian (PP) yang akan dididik selama empat tahun.

“Orientasinya untuk menumbuhkembangkan wirausahawan muda di sektor pertanian,” ucap Momon.


(ROS)