BI-OJK Diminta Perketat Regulasi untuk Fintech

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 08 Feb 2018 20:50 WIB
fintech
BI-OJK Diminta Perketat Regulasi untuk Fintech
Fintech (FOTO AFP).

Jakarta: Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta memperketat regulasi yang diterapkan untuk pelaku usaha financial technology (fintech). Hal ini dimaksudkan agar perkembangan fintech tak membawa dampak negatif karena bisa menyebabkan masalah di kemudian hari.

"Makanya OJK dan BI diharapkan mengejar, jangan sampai timbul korban, baru muncul regulasi. Karena yang seperti ini akan eksponensial," kata Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Sri Adiningsih di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Kamis 8 Februari 2018.

Dirinya menambahkan, pengawasan terhadap fintech mutlak dilakukan secara benar-benar sebagaimana lembaga jasa keuangan konvensional. Dengan regulasi yang lebih baik maka risiko dari penyalahgunaan industri fintech dapat dicegah sekaligus memberi rasa aman bagi masyarakat.

"Kalau kita kredit ke bank, bank akan make sure kredit itu diawasi, diatur dengan baik sehingga akan kembali. Kalau melalui fintech, dia melakukan pengawasan tidak bahwa kredit itu disalurkan untuk berbisnis dengan benar," jelas dia.

Meski begitu, dirinya mengakui bahwa fintech menyediakan kemudahan dan mengubah sistem keuangan karena memanfaatkan kemajuan teknologi. Misalnya saja untuk perusahaan peer-to-peer lending (P2P) yang dinilai menghimpun dana dan menyalurkannya seperti tugas bank.

BI sebenarnya telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 19/12/PBI/2017 tentang penyelenggaraan teknologi finansial pada 29 November 2017. Ketentuan ini mengatur fintech yang bergerak di sistem pembayaran untuk bisa mendaftarkan diri dan memperoleh perizinan dari bank sentral.

Sementara OJK juga telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI). Aturan ini mewajibkan penyelenggara bisnis P2P lending untuk taat pada ketentuan yang telah dibuat OJK.


(SAW)