Kemenaker-Tahir Foundation Kerja Sama Meningkatkan Kompetensi SDM

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 08 Feb 2018 18:20 WIB
berita kemenaker
Kemenaker-Tahir Foundation Kerja Sama Meningkatkan Kompetensi SDM
Menaker Hanif Dhakiri dan Chairman Tahir Foundation Dato Sri Tahir. Foto: Medcom.id/Gervin N. Purba

Jakarta: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) bekerja sama dengan Tahir Foundation dalam meningkatkan kompetensi calon pekerja migran Indonesia (PMI). Kerja sama ini ditargetkan bisa meningkatkan kompetensi dan mensertifikasi 5 ribu calon PMI.

Pelatihan peningkatan kompetensi calon pekerja migran akan bertahap selama lima tahun. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri menyambut baik kerja sama ini. Peningkatan kompetensi sangat penting karena berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.

"Faktor kemiskinan karena berpenghasilan rendah. Kenapa rendah? Pekerjaannya tidak berkualitas. Kenapa tidak berkualitas? Karena kompetensinya rendah. Kenapa kompetensinya rendah? Karena sekolahnya rendah. Sekolahnya rendah karena miskin. Jadi berputar di situ," kata Hanif dalam sambutannya saat penandatanganan nota kesepahaman Kemenaker dengan Tahir Foundation di kantor Kemenaker, Jakarta, Kamis, 8 Februari 2018.

Karena itu, pemerintah menggenjot pendidikan dan memberikan pelatihan vokasi sebagai terobosan peningkatan kompetensi, sehingga calon pekerja memiliki kualitas dan menerima upah dengan baik.

"Pekerja di dalam negeri dan luar negeri tantangannya sama. Kualitas pekerjaan tergantung pada kualitas kompetensi. Saya tidak memandang berbeda dalam dan luar negeri karena menyatu semua. Investasi sumber daya manusia berorientasi pada pasar ini," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Chairman Tahir Foundation Dato Sri Tahir mengatakan kerja sama penting karena masih banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri bekerja dengan suasana yang tidak nyaman. Ia mengungkapkan, masih ada TKI yang tidak menerima gaji selama 10 tahun.

"10 tahun tidak terima gaji. Sampai ibunya meninggal tidak bisa mendampingi. Ini tidak bisa diterima secara akal sehat dan sebagai orang yang berpendidikan," ujar Tahir.

Ia menyebut para TKI di negara Timur Tengah seperti Arab Saudi sering menerima perlakuan tidak baik. Sedangkan para pekerja dari India dan Filipina mendapat perlakuan baik, bahkan memiliki pekerjaan lebih baik. Kurangnya kompetensi kerja menjadi penyebab perlakuan berbeda kepada TKI.

Tahir berharap, kerja sama ini bisa menghasilkan para calon pekerja yang berkualitas sehingga bisa bersaing di berbagai sektor.


(TRK)