Bisnis e-Commerce Bisa Menggerus Lapangan Pekerjaan

   •    Rabu, 09 Aug 2017 11:20 WIB
daya beli masyarakat
Bisnis <i>e-Commerce</i> Bisa Menggerus Lapangan Pekerjaan
Ilustrasi. (MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Geliat perekonomian Indonesia bergerak ke arah positif selama dua kuartal terakhir pada 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daya beli masyarakat pada kuartal I berada di angka 4,94 persen dan pada kuartal II menjadi 4,95 persen.

Sayangnya, meski mengalami tren posiitif, BPS menyebut daya beli masyarakat justru menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pakar Bisnis dan Marketing Rhenald Kasali punya pendapat berbeda. Menurut dia, daya beli masyarakat bukan menurun, tetapi terjadi rasionalisasi. Kemampuan belanja masyarakat disesuaikan dengan kebutuhan.

"Selama ini kita mengkritik negeri kita banyak konsumsinya, lalu kita dorong agar konsumen lebih rasional. Ketika konsumen lebih rasional kita bilang ekonomi kita lesu," ujar Rhenald dalam Metro Pagi Primetime, Rabu 9 Agustus 2017.

Rhenald mengatakan jika ditelusuri lebih jauh, bisnis konvensional di seluruh dunia juga tengah pengalami pasang surut. Bahkan boleh disebut tengah memasuki sunset industri.

Baca juga: Aksi Wait and See Kalangan Borjuis Bikin Daya Beli Melambat

Meskipun ada anggapan bahwa peralihan daya beli masyarakat ke e-commerce sangat kecil, namun menurut Rhenald hal ini tak bisa dianggap sepele.

Boleh jadi BPS hanya menghitung jumlah transaksi yang dilakukan oleh konsumen, namun pada kenyataannya banyak konsumen lain yang belanja online dengan sistem pembayaran cash on delivery (COD) yang tidak tercatat.

"Jadi ada perbedaan generasi. Kita terlalu tua untuk menganalisis yang dipahami anak muda," kata Rhenald.

Kata Rhenald, kehidupan sudah banyak berubah, persaingan bisnis bukan hanya yang terlihat.

Mungkin sejumlah pihak akan mengatakan bahwa bisnis online itu kecil. Namun ketika ditelusuri penawaran barang yang diberikan justru cakupannya lebih luas ketimbang pasar yang nyata secara fisik.

Baca juga: Pemerintah Fokus Tingkatkan Daya Beli Masyarakat

Rhenald mengatakan dengan kondisi seperti ini pemerintah harus sangat khawatir. Sebab cara menghitung statistik dan mekanisme pengumpulan data pun sudah berubah. Jangan dilupakan bahwa bisnis e-commerce yang tak kasat mata juga bisa menghancurkan lapangan pekerjaan.

"Kalau tidak bisa dibaca, kalau kebijakan tidak meng-adress itu tentu akan sangat berbahaya. Maka regulatornya harus pandai menggunakan disruptif strategi. Para pembuat kebijakan, para pengontrol, mindset-nya sudah harus disruptif," jelasnya.




(MEL)