Indonesia Cetak 1 Juta Tenaga Terampil di 2018

   •    Sabtu, 09 Sep 2017 18:08 WIB
tenaga kerja
Indonesia Cetak 1 Juta Tenaga Terampil di 2018
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. (FOTO: ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)

Metrotvnews.com, Bekasi: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) akan mencetak 1.005.000 tenaga kerja terampil pada 2018 dengan melibatkan sejumlah lembaga pelatihan kerja pemerintah maupun swasta.

"Tenaga kerja terampil untuk mengejar pencapaian target Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar ke-7 di dunia hingga 2030," kata Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di Bekasi, seperti dikutip dari Antara, Sabtu 9 September 2017.

Menurut dia, target tersebut mewajibkan Indonesia untuk mencetak 113 juta tenaga kerja terampil hingga 2030 sebagai syarat bagi peraihan gelar negara ekonomi terbesar ke-7 dunia. Hal itu diungkapkan Hanif usai menutup Seleksi Nasional ASEAN Skill Competitions 2017 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri CEVEST Kota Bekasi.

"Upaya merealisasikannya sudah dirintis sejak saat ini melalui serangkaian strategi," katanya.

Strategi yang dilakukan Kemenaker antara lain dengan menggelar sejumlah pelatihan kerja, baik yang diselenggarakan pemerintah, pemagangan serta pusat pelatihan di perusahaan swasta, hingga pelatihan di lembaga swasta.




Meskipun diselenggarakan banyak pihak, kata dia, tapi Kemenaker telah menyusun kurikulum yang menggariskan secara umum kebutuhan industri.

"Kurikulumnya dirumuskan juga bersama kalangan industri supaya kebutuhan mereka sinergi dengan keterampilan tenaga kerja yang disiapkan," tambah dia.

Untuk tahap awal, kata dia, pihaknya pada 2018 menargetkan penciptaan 1.005.000 tenaga kerja terampil yang disiapkan melalui skema-skema tersebut. Kemudian setiap tahunnya ditetapkan peningkatan jumlahnya secara bertahap hingga target 2030 tercapai.

Hanif menambahkan, tugas penciptaan tenaga kerja terampil ini tidak semata menjadi tugas kementerian yang saat ini dipimpinnya. Beban yang sama juga ditanggung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui mutu lulusan SMK yang kompeten.

"Hanya saja kami tidak ikut masuk dalam ranah perumusan kurikulum pendidikan di tingkat SMK. Namun penting untuk memadukan kebutuhan industri dengan pembelajaran yang diberikan agar kondisi miss match tidak terus terjadi," jelasnya.

Hanif mengapresiasi peran serta pihak swasta yang sudah ikut peduli pada upaya penyiapan tenaga kerja terampil. "Namun pelibatan mereka harus lebih dimasifkan lagi," pungkasnya.


(AHL)