Arab Saudi Borong Hasil Tani Indonesia Rp77 Miliar

Ilham wibowo    •    Senin, 28 Jan 2019 13:24 WIB
pertanianarab saudi
Arab Saudi Borong Hasil Tani Indonesia Rp77 Miliar
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Jeddah: Hasil pertanian berupa buah dan sayuran Indonesia disebut mulai diminati negara Timur Tengah. Hal itu ditandai dengan pembelian produk hortikultura oleh perusahaan Arab Saudi Maula Al Dawilah Trading & Co.

Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah Gunawan mengatakan perusahaan tersebut telah menyepakati perdagangan senilai USD5,35 juta atau Rp77 miliar selama satu tahun. Produk khas yang berasal dari Tanah Air dinilai potensial dalam memenuhi kebutuhan peminatnya.

"Impor buah dan sayuran khas Indonesia yang dilakukan importir Arab Saudi yaitu Maula Al Dawilah Trading & Co memudahkan masyarakat Indonesia yang tinggal di sana untuk mendapatkan produk-produk tersebut," ujar Gunawan melalui keterangan resmi, Senin, 28 Januari 2019.

Produk-produk yang diimpor itu merupakan hasil pertanian dan perkebunan dari Indonesia, antara lain buah naga, durian, pisang, mangga, pepaya, nangka, sirsak, rambutan, salak, manggis, belimbing, petai, jengkol, dan bahan sayur-sayuran. Tak hanya itu, beragam bumbu juga ikut serta diimpor seperti lengkuas, cabai, kemiri, bawang merah, bawang putih, jahe, kayu manis, tanaman apotek hidup, daun kelapa, serta buah kelapa.

Selain itu, Maula Al Dawilah Trading & Co juga mengimpor aneka makanan olahan seperti kerupuk, kacang dan produk olahan kacang, biskuit, aneka kopi, minuman sereal Energen, gula merah, kopi Good Day, produk mi dan bihun, tepung beras, tepung jagung, kecap sedap, santan cair Kara, buah-buahan kaleng, tuna, dan kedelai.

Maula Al Dawilah Trading & Co mendatangkan buah-buahan dari Indonesia secara rutin sebanyak 3-5 ton setiap minggunya atau sebanyak 130-170 ton setiap tahun melalui kargo udara dengan proses pengiriman selama dua hari. Sedangkan untuk produk makanan dan minuman (mamin) olahan serta buah dan sayur yang tahan lama, pengirimannya dilakukan melalui kapal laut selama 15-20 hari.

Gunawan menuturkan dari total impor 70 persennya merupakan produk Indonesia. Sedangkan 30 persen sisanya merupakan produk-produk tambahan dari Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Maula Al Dawilah Trading & Co mempunyai dua gudang besar yang berada di Jeddah dan Dammam untuk memenuhi kebutuhan produk Indonesia di Arab Saudi. Proses distribusi bisa dilakukan cepat hingga wilayah bagian barat dan timur.

Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Jeddah M. Hery Saripudin menambahkan dorongan terus dilakukan untuk meningkatkan perdagangan produk pertanian, perkebunan, dan makanan olahan dari Indonesia. Importir Arab Saudi juga telah mengikuti haji dan umrah di Balai Nusantara KJRI Jeddah pada 24-26 Januari 2019.

"Melalui pameran haji dan umrah, importir Arab Saudi akan dipertemukan dengan pengusaha katering Indonesia yang menyuplai mamin selama haji. Dengan memasuki pasar haji, importir tidak hanya memasok ke pasar reguler seperti toko, restoran, dan pasar ritel modern, tetapi juga memasok katering haji yang memiliki konsumen yang sangat besar," ucap Hery.

Selain mengimpor buah dan sayur Indonesia, saat ini Maula Al Dawilah Trading & Co sedang melakukan pendaftaran impor pada salah satu merek kopi Indonesia di Kementerian Perdagangan dan Investasi (MCI) Arab Saudi. KJRI Jeddah akan memfasilitasi dan mengawal rencana perusahaan untuk mendaftarkan produknya di MCI Arab Saudi.

"Ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya pemalsuan produk atau pendaftaran produk sejenis yang dilakukan oleh perusahaan lain," tuturnya.

Hery juga berharap bahwa Maula Al Dawilah Trading & Co dapat mengembangkan pasar produk Indonesia tidak hanya di Arab Saudi, tetapi juga di wilayah Gulf Cooperation Council (GCC) dan wilayah Afrika bagian timur seperti Djibouti, Somalia, dan Sudan.

"Negara-negara di wilayah timur Afrika memiliki pasar yang sangat terbuka bagi produk yang telah mendapatkan pengakuan standar dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA) dan Saudi Accreditation and Standardization Organization (SASO). Selain itu, dengan memperluas pasar, maka akan semakin meningkatkan ekspor produk-produk Indonesia khususnya buah dan sayur," pungkas Hery.

 


(AHL)