Mentan: Tahun ini Tidak Ada Masa Pakceklik

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 16 Sep 2017 16:19 WIB
kementerian pertanian
Mentan: Tahun ini Tidak Ada Masa Pakceklik
Menteri Pertanian Amran Sulaiman. (FOTO: Dokumentasi Kementan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa tahun ini tidak ada masa pakceklik. Hal ini pun sudah diantisipasinya melalui program jangka panjang dan pendek.

"Insyaallah tidak ada paceklik," tegas Menteri Amran, dalam siaran persnya, Sabtu 16 September 2017.

Amran mengungkapkan, program jangka pendek dengan membuat sumur pantek dan pompanisasi air sungai di wilayah potensial, penyediaan benih unggul tahan kekeringan, pongaturan pola tanam, minimalisir risiko kekeringan, penyediaan asuransi usahatani dan menggenjot pertanaman di lahan rawa, lebak, pasang surut.

Sedangkan untuk program jangka panjang melalui program  perbaikan irigasi, bantuan alsintan, pembangunan embung, pengembangan tata air mikro di lahan rawa dan psang-surut, dan bantuan benih tahan kekeringan untuk mengantisipasi potensi kekeringan dan menghindari penurunan hasil produksi petani.

"Untuk menjamin ketersediaan air irigasi, Kementan bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait pembangunan bendungan, DAM, jaringan irigasi primer dan sekunder serta melakukan normalisasi sungai, serta pembangunan irigasi tersier 3,0 juta hektare (ha)," jelas dia.

Sementara untuk penyediaan air irigasi secara berkelanjutan Kementan juga turut bekerja sama dengan Kementerian Desa dan PDT dalam pembangunan embung di Seluruh Indonesia.

Di 2017, pemerintah menargetkan akan membangun minimal 11 ribu embung dari total 30 ribu embung dengan jangkauan 1,5 juta ha hingga 2 juta ha, bahkan untuk mendukung ketersediaan air pada lahan pertanian, Amran telah menyiapkan puluhan ribu pompa air untuk pengairan sawah seluruh Indonesia.

Mentan menambahkan bahwa memasuki masa tanam yang tinggal dua minggu lagi ini harus dikawal dan jaga ketat agar berjalan dengan baik.

"Masa kritis itu Juni sampai Desember dan ini harus diamankan," ujar Mentan.

Sampai saat ini walau ada beberapa wilayah mengalami kekeringan, stok beras aman. "Saya sudah minta agar BPTP mengawal serangan hama dan tidak lengah karena tiga bulan ini sangat genting," tegas Amran.

Ke depan, lanjut dia, petani akan semakin maju, pola pertanian modern, petani tidak menjual gabahnya  lagi tapi nantinya jadi beras. Polanya saham petani 49 persen, benih dia buat sendiri dan ini diasuransikan sendiri dan BUMN sebagai pembina 51 persen petani semua akan gunakan alsin sehingga yang tadinya biaya Rp2 juta bisa jadi Rp1 juta, sehingga ada penghematan pengeluaran.

"Semua bisa akses bank karena yang ambil berupa korporasi, berupa sekelompok petani dikorporasikan/kelompok tani besar dan ada Rmunya sehingga patahan semakin kecil," tambahnya.

Menurut data Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan tercatat luas kekeringan pada pertanaman padi Musim Kemarau 2017 (periode April-Agustus) hanya 5.379 ha. "Jumlah ini hanya 0,11 persen dari total keseluruhan areal tanam pada periode yang sama 4.869.051 ha," pungkas Mentan.


(AHL)