Solusi Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Asing ala Menaker

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 08 Feb 2018 11:14 WIB
berita kemenaker
Solusi Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Asing ala Menaker
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri (Foto:Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta: Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri menyebutkan ada tiga kelemahan yang dimiliki sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini. 

Pertama, kemampuan berbahasa asing (bahasa Inggris), kedua kemampuan mengoperasikan komputer, dan ketiga soal leadership.

Terkait kendala bahasa, Hanif tidak menutup mata masih banyak tenaga kerja yang kurang menguasai bahasa Inggris. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing seharusnya dipupuk sejak dini.

"Pengalaman kita selama ini dilatih dahulu skill-nya, setelah itu baru dilatih bahasanya. Itu hasilnya berbeda. Seperti pengalaman kita selama ini, TKI juga begitu," ujar Hanif, saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Februari 2018.

Ia mengaku sudah membahas masalah ini bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Ia ingin adanya pembenahan sistem pengajaran bahasa Inggris dalam dunia pendidikan.

"Saya usulkan anak-anak kita sejak SD sudah dikasih pelajaran bahasa Inggris. Kedua, bahasa Inggris yang diajarkan adalah bahasa Inggris praktis. Ketiga, bahasa Inggris enggak usah di UN-kan," kata Hanif.

Selain itu, ia ingin penggunaan bahasa Inggris diaplikasikan pada mata pelajaran tertentu agar semakin mudah dikuasai oleh setiap orang. "Misalnya, mengajari sejarah pakai bahasa Inggris. Ini akan isi kontennya juga," ucapnya.

Dengan sistem tersebut Hanif yakin setiap orang akan siap ketika memasuki usia kerja. Di satu sisi, pihaknya juga terus menggenjot pelatihan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

"Karena sadar betul ini salah satu kelemahan hasilnya tidak maksimal. Misalnya, skema pelatihan ke Jepang. Biasanya skema pelatihan enam bulan di Indonesia, lalu tiga bulan di Jepang. Nah, ini maunya dibalik. Biar cepat berbahasa Jepang. Keluar rumah ketemu orang Jepang, nonton TV pun yang berbahasa Jepang," kata Hanif.


(ROS)