IPO Go-Jek Terkendala Ketatnya Syarat dan Regulasi

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 12 Feb 2018 19:45 WIB
ipo
IPO Go-Jek Terkendala Ketatnya Syarat dan Regulasi
Gojek. Dok: Antara..

Jakarta: PT Go-Jek Indonesia (Go-Jek) memiliki keinginan untuk mencatatkan sahamnya dengan mekanisme Initial Public Offerings (IPO) di pasar modal Indonesia. Niat tersebut masih terkendala beberapa persyaratan maupun regulasi yang ada.

Pernyataan itu disampaikan oleh ‎‎President dan Co-Founder Go-Jek Andre Sulistyo, ‎ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin, 12 Februari 2018. ‎ "IPO ini topik yang sangat menarik karena perusahaan-perusahaan seperti kami ini masih muda dan financial track record masih pendek," kata Andre.

Andre menyatakan, syarat IPO di luar negeri lebih mudah, seperti perusahaan tidak diharuskan meraup laba. Pasalnya, perusahaan seperti Go-Jek membutuhkan waktu yang cukup lama dalam meraup laba bersih. "Di luar negeri lebih fleksibel apakah perusahaan harus profit atau apakah perusahaan harus memiliki kelas-kelas saham yang berbeda. Nah itu mungkin yang menjadi wacana untuk disampaikan ke regulator. Kami pun sudah ada keinginan (untuk IPO)," jelas dia.

‎Ditempat yang sama, Chief Executive Officer dan Founder Go-Jek Nadiem Makarim menyebutkan dirinya percaya regulator pasar modal bisa menjawab kendala yang telah disebutkan oleh perusahaan. "Pemain digital itu kan harus berinvestasi jangka panjang. Contohnya Twitter tadi baru saja cetak laba bersih. Saya yakin kepemimpinan BEI pasti akan mengakomodasi pemain digital yang mau investasi ke ekonomi digital," keluh Nadiem.

Diberitakan sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) pernah menyebutkan, bahwa bursa sedang mendorong tiga perusahaan unicorn bisa mencatatkan sahamnya‎ (IPO) di pasar modal Indonesia. Ketiga perusahaan tersebut terdiri dari PT Gojek Indonesia (Go-Jek), PT Tokopedia, dan Bukalapak.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengaku telah meminta langsung rencana mendorong ketiga perusahaan untuk IPO di bursa saham Indonesia. Meski demikian, ketiga perusahaan tersebut belum menindaklanjuti permintaan dari bursa. "Karena pendapatan mereka itu lebih dari 90 persen di Indonesia, jadi tolong lah listed juga di Indonesia," kata Tito.

Dia menuturkan ketika tiga perusahaan itu mencatatkan sahamnya di bursa akan bisa meningkatkan pendapatannya. Tito meyakini pelaku pasar akan menyerap ketiga saham tersebut. Bukan hanya ketiga perusahaan tersebut, Tito juga telah membidik sejumlah perusahaan rintisan di sektor teknologi untuk bisa IPO. ‎Namun, perusahaan berbasis teknologi ini masih terganjal belum adanya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).





(SAW)