Butuh Stimulus Gairahkan Pasar Properti

Husen Miftahudin    •    Kamis, 22 Sep 2016 19:30 WIB
properti
Butuh Stimulus Gairahkan Pasar Properti
Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghand (tengah). Foto: MTVN/ Husen Miftahudin

Metrotvnews.com, Jakarta: Riset Indonesia Property Watch (IPW) pada triwulan II-2016 mencatat, pertumbuhan pasar properti yang masih rendah. Hal ini terlihat dari nilai transaksi penjualan perumahan yang masih mengalami pertumbuhan negatif.

Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghanda membeberkan, secara kuartal pasar penjualan perumahan pada triwulan II-2016 tumbuh negatif 13,3 persen. Secara tahunan pun turun 49,8 persen. Menurut Ali, penurunan nilai penjualan ini disebabkan karena saat ini pasar perumahan lebih mengarah ke segmen menangah bawah dibanding menengah atas. 

"Namun sedikit harapan mulai muncul dengan adanya kenaikan tipis 3,2 persen bila dilihat berdasarkan jumlah unit terjual," ujar Ali dalam diskusi Synthesis Development di Synthesis Square, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (22/9/2016).

Dirinya memandang untuk terus mendorong kenaikan positif terutama bagi pasar properti menengah atas, sangat dipengaruhi oleh stimulus yang diberikan secara berkelanjutan oleh pemangku kebijakan. Pertama, kata dia, adalah penurunan suku bunga acuan 7 days revers repo seperti yang hari ini diputuskan dari 5,5 persen jadi 5,25 persen. Kemudian pelonggaran loan to value (LTV) dan inden yang dikeluarkan Bank Indonesia.
 
"Besaran uang muka kepemilikan perumahan jadi 15 persen dari 20 persen akan berdampak besar. Tapi kami menilai besaran uang muka ini seharusnya dapat lebih diturunkan untuk memberikan dampak yang lebih terasa di pasar," imbuh dia.
 
Selanjutnya pembangunan infrastruktur, karena menurut Ali, dengan pembangunan infrastruktur yang diperkirakan sebesar Rp300 triliun pergerakan barang dan jasa akan lebih efektif dan efisien sehingga arus perdagangan dapat lebih ditingkatkan.
 
Lalu, program sejuta rumah yang pro pasar perumahan rakyat juga menjadi stimulus karena menarik minat pengembang membangun rumah sederhana dengan suku bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) lima persen, besaran uang muka satu persen, dan bantuan uang muka Rp4 juta per unit.
 
Selain itu, pemotongan pajak Dana Investasi Real Estate (DIRE) menjadi single tax dengan total besaran pajak sebesar 1,5 persen untuk alternatif pembiayaan proyek properti juga jadi stimulus. Pasalnya, besaran pajak ini masih lebih murah 50 persen dibandingkan REIT Singapura sebesar tiga persen.
 
Lebih jauh, kata dia, ada Pajak Penghasilan (PPh) Final yang diturunkan dari 5 persen menjadi 2,5 persen. Ada juga stimulus kepemilikan asing yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia.
 
"Selanjutnya birokrasi perizinan dari Paket Kebijakan Ekonomi ke-13 yang memangkas jenis perizinan dari 33 menjadi 11 dalam waktu 1,5 bulan. Terakhir adalah program amnesti pajak yang dana repatriasinya bisa diarahkan ke sektor properti dengan pembelian tanah dan bangunan," pungkas Ali. (SCI)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA