Mendag Galang Dukungan Pengusaha AS Kaji Ulang Kebijakan GSP

Husen Miftahudin    •    Selasa, 07 Aug 2018 07:15 WIB
ekonomi indonesiaPerang dagang
Mendag Galang Dukungan Pengusaha AS Kaji Ulang Kebijakan GSP
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menggalang dukungan para pengusaha Amerika Serikat (AS) untuk meninjau ulang evaluasi fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang dilakukan Pemerintah AS terhadap Indonesia. Upaya itu dilakukan Enggar dalam lawatannya ke Negeri Paman Sam pada akhir Juli 2018 lalu.

Selain meminta tinjauan ulang evaluasi GSP terhadap Indonesia, lawatan Enggar ke Negeri Paman Sam itu juga sekaligus meminta Pemerintah AS untuk tetap memberikan potongan bea masuk terhadap produk-produk ekspor Indonesia ke AS.

Enggar pertama kali meminta dukungan dari produsen pesawat, Boeing. Dalam pertemuan itu, Enggar berharap, Boeing meminta Pemerintah AS mengecualikan produk baja dan alumunium dalam kajian ulang produk ekspor Indonesia yang diberikan potongan bea masuk.

"Baja juga dipergunakan oleh Boeing. Kalau kita kena tarif 25 persen (tarif bea masuk normal), otomatis biaya produksi Boeing juga naik dan bisa lebih mahal dari kompetitornya," ujar Enggar, di kantor Kemendag, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta Pusat, Senin, 6 Agustus 2018.

Setelah itu, Enggar kemudian mengadakan pertemuan dengan Wilbur Ross, pengusaha industri manufaktur dan baja. Enggar meyakinkan Wilbur Ross yang juga menjabat sebagai Mendag AS untuk tetap memasok baja dari Indonesia.

"Ekspor baja kita hanya 0,23 persen pangsa pasarnya, jadi tidak bersaing dan tidak membahayakan produk AS. Apalagi baja sangat diperlukan industri AS karena tidak diproduksi di sana," ungkapnya.

Lebih lanjut, Enggar juga meminta dukungan US Chamber of Commerce atau Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS untuk meninjau ulang evaluasi GSP terhadap Indonesia. Dia pun meminta Kadin Indonesia, US Chamber of Commerce, dan United States-Indonesia Society (Usindo) untuk membahas peluang peningkatan bisnis kedua negara.

"Tadi saya sudah ketemu Ketua Kadin, jadi nanti antara Kadin, US Chamber of Commerce, dan USINDO sepakati itu. Jadi cara negosiasi kita tidak meminta, tapi menjelaskan dan melakukan transaksi," pungkas Enggar.

Pada April 2018, Kantor Perwakilan Dagang AS meninjau kembali kelayakan Indonesia, India, dan Kazakhstan terkait fasilitas GSP. Bagi Indonesia, AS memberikan potongan tarif bea masuk 3.500 produk ekspor Indonesia, di antaranya sebagian produk agrikultur, tekstil, garmen, dan kayu.

Apabila dalam proses evaluasi menyatakan Indonesia tidak lagi layak mendapatkan fasilitas GSP, maka produk ekspor Indonesia ke AS yang saat ini menerima GSP akan dikenakan bea masuk normal.

 


(ABD)


Qatar Janjikan Investasi USD15 Miliar di Turki
Di Tengah Krisis

Qatar Janjikan Investasi USD15 Miliar di Turki

8 hours Ago

Pejabat Turki mengatakan Qatar telah menjanjikan investasi senilai USD15 miliar berupa investas…

BERITA LAINNYA