Pemerintah Diminta Berperan Lebih Perbesar Penetrasi Perbankan Syariah

Angga Bratadharma    •    Senin, 16 Apr 2018 14:49 WIB
perbankan
Pemerintah Diminta Berperan Lebih Perbesar Penetrasi Perbankan Syariah
Bank Syariah (BCA).

Jakarta: Penetrasi perbankan syariah di Indonesia masih belum terakselerasi maksimal sekarang ini dan diperlukan peran lebih dari pemerintah untuk meningkatkan penetrasi tersebut. Karena itu, sosialisasi dan edukasi perlu kembali digalakkan yang salah satunya guna mendorong peran perbankan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Ketua V Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Agustianto Mingka menilai perlu beberapa upaya untuk meningkatkan penetrasi perbankan syariah di Indonesia. Beberapa langkah itu yakni pertama, edukasi yang harus dioptimalkan di masa-masa mendatang. Kedua, memberikan proyek-proyek pemerintah kepada perbankan syariah di Tanah Air.

"Termasuk juga dana-dana dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bisa ditempatkan ke perbankan syariah. Dengan ini bank syariah bisa tumbuh dan supaya bisa lebih spektakuler maka peran pemerintah perlu dioptimalkan," kata Agustianto, dalam Workshop Jurnalis bertajuk 'Meneropong Celah Bisnis Melalui Akad-Akad di Perbankan Syariah', di Jakarta, Senin, 16 April 2018.

Dana haji, misalnya, dinilai Agustianto perlu terus dipertahankan penempatannya di perbankan syariah. Langkah itu bisa memberikan stimulus positif terhadap pertumbuhan bisnis perbankan syariah dari sisi penguatan likuiditas. Tentunya dana segar itu harus diimbangi dengan tingkat mitigasi risiko yang lebih baik lantaran dana umat.

"Harus dipikirkan juga tingkat keamanan. Lebih baik untung biasa tapi risiko yang didapatkan kecil," ungkapnya.

Perkembangan perbankan syariah tercatat dari waktu ke waktu terus meningkat dan hal ini terlihat dari penertrasi yang akhirnya menembus posisi lima persen. Meski demikian, perbankan syariah harus terus berusaha meningkatkan penetrasi tersebut agar semakin banyak masyarakat yang terbantu dengan adanya keberadaan perbankan syariah.

Salah satu upaya perbankan syariah yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi produk dan layanannya ke masyarakat mengingat tingkat literasi keuangan syariah nasional berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2017 baru mencapai delapan persen.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kepatuhan dan Risiko BNI Syariah Tribuana Tunggadewi menilai kegiatan sosialisasi tentu tidak terlepas dari peran media yang kian aktif melakukan pemberitaan mengenai perkembangan industri keuangan syariah khususunya pemberitaan tentang produk perbankan syariah.

"Dengan adanya kegiatan ini kami berharap dapat memberikan manfaat kepada rekan-rekan jurnalis untuk meningkatkan pemahaman terkait perbankan syariah khususnya akad-akad perbankan syariah," kata Tribuana Tunggadewi.

Tidak ditampik, dibutuhkan pemahaman yang memadai terkait istilah-istilah yang digunakan diperbankan syariah, dimulai dari produk, layanan, hingga pada istilah serta penerapan akad-akad yang biasa digunakan. Kesemuanya itu penting dengan harapan penetrasi perbankan syariah bisa tumbuh lebih maksimal di masa-masa mendatang.


(SAW)