BI Wajibkan Merchant Gunakan Mesin EDC Terintegrasi Komputer

Desi Angriani    •    Rabu, 13 Sep 2017 19:54 WIB
penggesekan ganda kartu
BI Wajibkan <i>Merchant</i> Gunakan Mesin EDC Terintegrasi Komputer
Mesin EDC. Antara/Wahyu Putro A.

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mewajibkan acquire bank atau lembaga yang bekerja sama dengan pedagang (merchant) menggunakan mesin electronic data capture (EDC) yang terintegrasi langsung dengan mesin kasir. Sambungan langsung ke meja kasir ini akan menjawab keluhan pengusaha ritel atas lamanya waktu kasir menginput data secara manual.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni V Panggabean mengatakan, kewajiban menggunakan mesin EDC terintegrasi ini akan disosialisasikan  langsung ke asosiasi pengusaha ritel dan perbankan esok hari.

"Mereka kan bisa menciptakan EDC untuk lansung ngelink ke komputer," katanya di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu 13 September 2017.

baca : Besok BI Dengar Keluhan Pengusaha Ritel

Menurutnya, double swipe bisa diakali dengan mengimplementasikan Integrated Cash Register (ICR). Dengan begitu kasir tak harus menginput langsung data ke komputer. Implementasi sistem ICR ini, katanya sudah dinisiasi PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan dilaksanakan di dua supermarket seperti Superindo dan Lottemart.

"Jadi sebetulnya enggak perlu di komputer harus ada EDC yang terintegrasi," tegas Eni.

Eni mengungkapkan, pertemuan dengan pengusaha ritel tak cuma menyosialisasikan aturan penggunaan mesin EDC terintegrasi mesin kasir tapi juga  mendengarkan keluhan dari pengusaha ritel. BI juga akan mensosialisasikan larangan double swipe untuk semua transkasi non tunai.

"Ya kita dengarkan keluhannya besok. kan kita terus saja sosialisasi ya pihak perbankan acquire semua kita sosialisasi," tutup dia.

Sebelumnya Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menemukan sejumlah kerugian setelah Bank Indonesia mengumumkan larangan gesek ganda atau double swipe kartu kredit dan debit dalam transaksi nontunai di semua merchant yang menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC).

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, kerugian muncul karena sosialisasi terkait aturan tersebut belum merata di seluruh ritel moderen di Indonesia. Banyak konsumen yang akhirnya membatalkan transaksi karena mendapati kasir masih melakukan double swipe.

"Beberapa transaksi batal dilakukan di toko ritel di daerah karena ada yang baru menyesuaikan dan belum tersosialisasi dengan larangan gesek ganda," katanya di Cafe Trattoria, Kawasan SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu 13 September 2017.

Selain membatalkan transaksi, Aprindo juga menerima laporan ada  konsumen yang mengurungkan niatnya masuk ke toko setelah larangan gesek ganda viral di sosial media. Menurutnya larangan ini telah membuat masyarakat menjadi multitafsir dan menilai semua ritel moderen melakukan double swipe. Padahal kata Roy, ada 95 ribu ritel moderen di Indonesia sementara pihaknya hanya bisa bertanggung jawab terhadap 35 ribu ritel modern yang tergabung di bawah Aprindo. 





(SAW)