KPPU Usulkan Pembentukan PIB di Setiap Daerah Sentra Produksi Beras

Anggi Tondi Martaon    •    Selasa, 06 Feb 2018 19:31 WIB
beras
KPPU Usulkan Pembentukan PIB di Setiap Daerah Sentra Produksi Beras
Beras. Antara/Benny Bastiandy.

Garut: Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawi Rauf mengusulkan agar Pasar Induk Beras (PIB) didirikan disetiap daerah yang menjadi sentra produksi beras. Hal itu perlu dilakukan agar referensi harga beras di pasaran menjadi beragam.

Syarkawi menjelaskan selama ini patokan harga beras nasional selalu mengacu pada pasar induk beras Cipinang (PIBC). Padahal, stok beras yang masuk ke PIBC tidak mewakili jumlah beras nasional, sekitar 80 ribu ton per bulan.

"Sebulan kurang lebih hanya 80 ribu ton dari sekian juta ton beras di Indonesia. Jadi ini kan tidak fair merepresentasi nasional. Makanya kita dorong, PIB itu tidak hanya di Cipinang," kata Syarkawi saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman meninjau panen raya di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2018.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Hassanudin (1999) itu menyebutkan, PIB bisa didirikan di daerah yang menjadi sentra produksi beras nasional, yaitu Sulawesi Selatan (8 persen stok beras nasional), Jawa Timur (17 persen stok beras nasional).

Selanjutnya, Jawa Tengah (15 persen persen stok beras nasional), Jawa Barat (15 persen stok beras nasional), Sumatera Selatan (enam persen stok beras nasional) dan Sumatera Utara (enam persen stok beras nasional).

"Sehingga kita punya banyak referensi mengenai pasokan dan harga beras dan tidak hanya bergantung pada PIBC yang jangan-jangan dikuasai oleh beberapa pedagang besar saja. Ini kan tidak fair," ungkap dia.

Ketika ditanya sudah sejauh mana rencana itu disampaikan kepada pihak pemerintah pusat maupun daerah, Syarkawi menyebut baru Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo. Hal itu disampaikannya saat kedua belah pihak bertemu pada acara panen raya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada Januari 2018 lalu.

"Kami sudah bicara, kirang lebih tiga minggu yang lalu kami bertemu Pak Gubernur Jatim, kami sampaikan ide ini. Dan rupanya Pak Gubernur sudah punya ide yang sama. Ya sudah, tinggal bikin rencana detail pembentukan PIB di Surabaya," sebut dia.

Ke depan, kata peraih gelar doktor di Universitas Indonesia itu, pihaknya akan mengajukan ide yang sama ke kepala daerah sentra produksi di Indonesia. "Nanti saya akan bicara degan Wagub Jabar," kata Syarkawi.

Selain itu, Syarkawi menyebutkan keberadaan PIB disetiap daerah produksi untuk mengefesienkan distribusi beras ke berbagai daerah. Sehingga, harga beras bisa lebih murah.

"Ada istilah beras bertamasya tuh, beras yang jalan-jalan ini yang susah, bikin haga makin tinggi. Jadi beras di Jatim dijual lagi ke PIBC lalu dijual lagi ke Kalimantan. Kenapa enggak langsung aja dari Surabaya ke Kalimantan. Itu akan lebih efesien," ujar dia.



(SAW)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA