Penolakan Pabrik Rembang, Semen Indonesia: Picu Konflik Sosial

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 05 Jan 2017 20:11 WIB
semen indonesia
Penolakan Pabrik Rembang, Semen Indonesia: Picu Konflik Sosial
lustrasi penolakan pembangunan pabrik semen Rembang. (Foto ANTARA/Rekotomo).

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) mengkhawatirkan penolakan pabrik Semen Indonesia di Rembang bisa membuat konflik sosial. Hal itu karena gugatan sudah dikabulkan seutuhnya, tapi penolakan Pabrik Rembang masih terjadi.‎ Hal itu disampaikan langsung oleh ‎Kuasa Hukum Semen Indonesia M Mahendra Datta, ditemui di The East Tower, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (5/1/2017).

"Cara penggugat sekarang mengarah ke luar hukum bisnis. Mereka sudah mempengaruhi masyarakat, mahasiswa, petani dan tokoh agama. Ini sudah mengarah ke kerawanan sosial padahal ini masalah industri tapi sudah dipancing ke konflik sosial. Semen Indonesia tidak mau yang terlibat namanya politik atau diluar bisnis. Tapi kalau mau gugat tentang produksi dan berkaitan bisnis, maka kami janjikan perlawanan hukum terbaik buat mereka, jangan kampanye diluar pengadilan," ujar Mahendra.

‎Mahendra mengimbau, agar penggugat yang tidak puas dengan hasil keputusan jangan memperpanjang masalah ini, karena sangat rawan dengan konflik sosial.

"Jangan hari ini, lagi hangat (kerawanan sosial)," jelas Mahendra.

Mahendra merasa penolakan pabrik Semen Rembang yang ditandatangani oleh 2.501 warga pada 10 Desember 2014 yang lalu cacat hukum. Dia berpendapat, bahwa penolakan itu banyak direkayasa untuk mengakomodir kepentingan tertentu.

‎‎"Bukan warga Rembang tapi alamatnya di Manchester dan ada lagi di Amsterdam. Terua ada nama samaran U‎ltraman dan Power Ranger ikut teken, mereka ternyata warga Rembang. Ada menteri dan Presiden RI periode 2025 juga tinggal disana. Ada yang tulis copet terminal juga. Kami tidak terima seperti inikan. Jadi, kami tuntut agar dibuktikan bahwa Ultraman dan Power Ranger benar tinggal di sana. Saya tidak menyatakan tidak benar," tutur Mahendra.

Sementara itu, ‎Corporate Secretary Semen Indonesia Agung Wiharto menambahkan, pabrik semen Rembang sudah menjalankan uji coba operasional. Tapi, bahan baku berasal dari pabrik SMGR yang ada di Tuban.

Keberlanjutan operasional pabrik Semen Rembang, sambung Agung, sedang menunggu putusan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada ‎17 Januari 2016. Jika hasilnya pada penolakan pertambangan, maka Semen Indonesia akan mempertanyakan perusahaan lain yang saat ini masih menambang di Rembang.

"In case kalau tidak bisa tambang di sana tapi ada ribuan hektare (ha) yang ditambang sejak 1996 dari 14 perusahaan yang melibatkan ribuan pekerja ini tidak ada. Kalau cuma kita saja yang tidak boleh itu namanya pengkerdilan terhadap BUMN," pungkas Agung.


(SAW)