Wawancara Khusus

Lampu Kuning Bisnis Pembiayaan di Tahun Politik

Angga Bratadharma    •    Jumat, 09 Nov 2018 13:29 WIB
multifinanceadira dinamika multifinance
Lampu Kuning Bisnis Pembiayaan di Tahun Politik
Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila (Foto: Adira Finance)

TAHUN politik sudah di depan mata. Banyak yang beranggapan pada tahun itu aktivitas ekonomi terutama di sektor riil akan bergairah, karena didorong oleh aktivitas kampanye. Pemerintah pun memperkirakan tingkat konsumsi bisa tumbuh tinggi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di 2019. Adapun tingkat konsumsi merupakan satu dari dua mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini selain investasi.

Namun demikian, pertanyaannya adalah apakah tahun politik memberikan dampak positif terhadap industri jasa keuangan, terutama industri perusahaan pembiayaan (multifinance)? Apakah tahun politik bisa mendongkrak pertumbuhan pembiayaan perusahaan pembiayaan? Apakah tahun tersebut bisa mengembalikan kejayaan bisnis perusahaan pembiayaan? Atau jangan-jangan pesta demokrasi tidak memberikan efek signifikan? Atau mungkin juga menjadi lampu kuning bagi industri perusahaan pembiayaan. Berikut wawancara yang dilakukan Angga Bratadharma dari Medcom.id dengan Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila beberapa waktu lalu, berikut petikannya:

Proyeksi tahun depan, secara industri lihatnya seperti apa?

Kita sedang dalam tahap penyelesaian pajak tahun depan, belum selesai sekali, tapi arahnya adalah kita percaya bahwa berdasarkan informasi yang kita dapat, mungkin penjualan kendaraan baru baik roda dua dan roda empat tumbuhnya tidak banyak. Kalaupun tumbuh ada kenaikan suku bunga, ada kenaikan harga kendaraan akibat depresiasi rupiah, dan juga fakfor eksternal yang tidak terlalu kondusif. Diperkirakan naiknya single digit, nol atau lima persen. Itu yang kita perkirakan sehingga dengan kondisi begini kita lagi diskusi apakah masih bisa tumbuh double digit atau tidak. Jadi intinya kita menyadari tahun depan mungkin lebih menantang dari tahun ini.

Cuma bisnis selalu aspirasinya dukungan dan tidak mungkin bisnis proyeksinya turun. Kita lagi nego juga bagaimana supaya aspirasinya selalu tumbuh, cuma kenyataannya tergantung dari pasar. Kalau pasarnya nyungsep ya sulit juga karena 60 persen dari pembiayaan baru kita itu kendaraan baru, roda dua maupun empat.



Bagaimanapun kalau penjualan kendaraan baru itu turun atau tetap, akan berdampak ke bisnis kita karena besarnya kontribusi pada bisnis. Kita kan di sini bisnis sudah jangka panjang. Tapi secara internal, kita akan selalu memperbaiki operasional kita, model bisnis kita, selalu investasi juga. Regardless kondisi di luar, cuaca kan selalu ada siang dan ada malam, masa karena itu kita tidak bikin rumah. Jadi kita bikin rumah, kita investasi, perbaiki pelayanan, ekspansi jaringan ke macam-macam termasuk online, dan memperbaiki produktivitas karyawan, itu jadi prioritas internal di luar bisnis.

Tahun depan kan tahun politik. Artinya bisa berpengaruh ke bisnis. Kalau dikatakan bisa memberikan sedikit tantangan maka tahun depan seperti apa?

Bagi kita sih tahun bisnis dan kita tidak membedakan tahun politik atau tidak. Kita lebih melihat makroekonomi sama eksternal. Makroekonomi kita kan bilang pertumbuhan (ekonomi) lima persen. Pemerintah juga mengurangi impor, memperbaiki defisit neraca tahun berjalan, rupiah juga belum terlalu kuat, dan the Fed juga naikkan suku bunga. Jadi banyak sekali faktor eksternal dan kita tidak tahu nanti seperti bagaimana jadinya. Yang ada sekarang proyeksinya adalah the Fed naikin suku bunga, karena itu BI juga naikkan suku bunga, begitu saja terus. Pada akhirnya kita akan memihak konsumen, sepanjang konsumen itu tetap confident ya kita tidak issue. Politikus tidak confident itu urusan dia, yang kita bidik kan orang yang mau beli kendaraan. Bahwa apakah itu sebagian akan dipengaruhi oleh tahun politik? Mungkin juga tidak, karena tidak ada hubungannya antara milih dan beli motor.

Kalau pengalaman sebelumnya ada tidak Pak? Seperti di Pilpres 2014?

Biasanya selain di positif, faktanya 3-4 tahun terakhir penjual mobil itu-itu saja, apakah itu karena politik atau ekonomi kita tidak tahu. Tapi poinnya adalah kondisi otomotif belum sebergairah sebelum 2014, itu yang kita hadapi.

Berarti kebijakan apa yang bisa membuat bisnis pembiayaan di multifinance naik?

Yang diharapkan pelaku industri lebih banyak makro ya, makro itu bukan cuma masalah pemerintah punya. Kalau dari regulator kan sudah mulai pengurangan uang muka dan relaksasi, tapi pada akhirnya apakah nanti konsumen punya daya beli dan mau beli. Daya beli kalau dia menunda karena ketidakpastian politik bisa, tapi kalau tidak punya daya beli ya sudah, selesai. Mau beli dari mana duitnya.

Jadi ya mungkin tahun politik bisa pengaruhi keinginan, tapi ekonomi yang pengaruhi daya beli. Jadi kalau ekonominya mulai, investasi datang, ya itu bisa aja membuat daya beli naik. Nah setelah punya duit di kantong pun, satu faktor lagi, apakah saya beli atau tidak. Nah itu biasanya mengakunya konsumen confident. Apakah masa depan cerah, apakah nanti saham saya naik, rumah saya harganya berlipat-lipat, warisan banyak, itu penting. Karena untuk mobil cicilannya besar, Rp5 jutaan. Income Rp15 juta itu besar lho. Saya kira kalau dari sudut daya beli pasti karena faktor ekonomi, bukan di Indonesia saja tapi eksternal.



Indonesia kayak seperti ini kan stabil artinya. Tapi (memang) saham babak belur, rupiah babak belur karena lawannya. Itu yang kita sulit tebak. Sekarang banyak diskusi Amerika yang sudah puncak akan naik dan turun, nah bisa dua kejadiannya. Kalau dia turun, duitnya balik ke Indonesia, Indonesia maju seperti sebelumnya. Kayak 2008 Amerika lagi hancur-hancurnya, duit masuk ke emerging market, masuk ke Indonesia.

Tapi bisa saja situasinya adalah di mana penurunan Amerika menyeret yang lain. Itu yang saya takutkan, karena bagaimanapun dia pusat dunia saat ini. Ekspor turun, kan bisa begitu, merembet-rembet itu yang paling saya takutkan.

Kalau dari Adira Finance sendiri melihat situasi dan kondisi seperti itu, tahun depan proyeksi pertumbuhannya bagaimana?

Dengan latar belakang industri domestik penjualan otomotif yang single digit ya kita mungkin masih diskusi di 5-10 persen untuk (pertumbuhan) pembiayaan baru. Jadi masih lebih tinggi dari industri. Tapi kalau industri (tumbuh) 20 persen (tumbuh) kita ada revisi. Masalahnya kalau industrinya minus itu lho. Biasanya stakeholders tidak mau permisi itu.

Melihat pertumbuhan pembiayaan tersebut maka bagaimana dari sisi pendanaan?

Kalau pendanaan sejauh ini kita masih dipercaya berbagai pihak. Sumber kita 40 persen dari duit financing, 60 persen obligasi, pinjaman bank dalam negeri dan pinjaman luar negeri. Kami saat ini belum memiliki issue untuk mencari dana. Cuma biaya dananya yang naik karena suku bunga pinjaman naik, benchmark obligasi pemerintah juga naik, ekspektasi dari investor juga naik, dan investor mikir lebih baik menempatkan di bank atau beli reksa dana. Reksa dana kan beli bond, jadi ekspektasi mereka naik. Itu juga berimplikasi. Kita belum ada issue untuk cari, tapi kita selalu dapat, cuma lebih mahal.

Strategi ke depan seperti apa Pak? Ada sesuatu yang baru untuk bisnis?

Untuk bisnis kita kontinu investasi di digital, karena kita mau ekspansi bisnis bukan hanya di cabang aja, tapi juga mau itu mobil atau motor kerja sama dengan e-commerce, itu pasti. Kedua kita selalu memperbaiki sistem pelayanan agar level pelayanan naik biar lebih efisien, biar lebih cepet. Artinya kita juga investasi di teknologi. Yang ketiga kita selalu mencoba mengeluarkan produk-produk biar beragam. Karena kalau mengandalkan kendaraan baru, penjual industri turun, keseret. Saat ini sih udah mulai imbang ya, 40 persen itu sudah bukan pembiayaan baru, 60 persen masih pembiayaan baru roda dua dan empat. Yang 40 persennya itu 20 persen di pembiayaan bekas, motor dan mobil, dan 20 persennya multiguna. Jadi agak mulai berimbang portofolionya.

 


(ABD)


Merpati dalam Cangkang

Merpati dalam Cangkang

21 hours Ago

NASIB maskapai penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines (persero) bak burung dalam sangkar.

BERITA LAINNYA