Kesepakatan Dagang Indonesia-Swiss Tuntas Tahun Ini

Ilham wibowo    •    Minggu, 14 Oct 2018 12:40 WIB
perdagangan bebasindonesia-swiss
Kesepakatan Dagang Indonesia-Swiss Tuntas Tahun Ini
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Medcom/Ilham Wibowo.

Jakarta: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa Indonesia dan Swiss sepakat untuk bergabung dalam perjanjian Indonesia-European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) sebelum akhir 2018. Tahap penyelesaian kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan ini menuju babak akhir.

Penegasan ini disampaikannya usai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Ekonomi Swiss Johann Schneider-Ammann pada Jumat 12 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali di sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018. Para pelaku usaha, baik dari Indonesia maupun negara anggota EFTA yang terdiri atas Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss ini diingatkan untuk mulai memanfaatkan dengan maksimal kesepakatan tersebut.

"Pertemuan bilateral dengan Swiss ini dimaksudkan untuk melanjutkan hasil pertemuan bilateral yang kami lakukan di Zurich, Swiss beberapa waktu lalu. Indonesia dan Swiss bertekad menyelesaikan perjanjian IE-CEPA tahun ini," jelas Enggartiasto melalui keterangan resmi, Minggu, 14 Oktober 2018.

Target penyelesaian perjanjian IE-CEPA ini, lanjut Enggar, sesuai dengan amanat yang diberikan Presiden RI Joko Widodo untuk menjadi tuan rumah dalam pertemuan terakhir perundingan IE-CEPA pada 29-31 Oktober 2018. Tim negosiasi dari empat negara EFTA akan ke Bali untuk melakukan finalisasi perjanjian tersebut.

Setelah pertemuan finalisasi IE-CEPA nanti, kelima negara sepakat untuk mengumumkan secara resmi diselesaikannya perundingan ini pada pertemuan tingkat menteri EFTA. Rencananya deklarasi tersebut akan diadakan di Jenewa, Swiss, pada 23 November 2018.

"Selanjutnya adalah proses teknis untuk dilakukan legal scrubbing dan terjemahan ke dalam bahasa masing-masing negara," tutur Enggar.

Ia menambahkan, isu minyak kelapa sawit yang menjadi perhatian utama bagi Indonesia telah menunjukkan hasil yang positif. Swiss telah melakukan referendum terkait isu tersebut dan hasil referendum menyatakan bahwa minyak kelapa sawit dibutuhkan untuk industri domestik di Swiss, dan kekhawatiran terkait pelarangan sawit tidak beralasan lagi.


(SAW)