Jatuh Bangun Pengusaha UKM Apel Malang

Nur Azizah    •    Selasa, 14 Nov 2017 18:51 WIB
bcadunia usaha
Jatuh Bangun Pengusaha UKM Apel Malang
Sugeng Slamet, pengepul apel asal Batu, Malang. (FOTO: MTVN/Nur Azizah)

Malang: Sugeng Slamet, pengepul apel asal Batu, Malang bisnisnya hampir gulung tikar pada 2004. Saat itu seluruh biaya produksi selangit. Mulai dari harga pupuk, alat-alat produksi hingga biaya pemasaran. Sementara mutu produk melorot, tidak bisa menyeimbangi mutu pasar.

Sugeng putar otak, mencari cara untuk kembali bangkit. Pada 2005, Sugeng memutuskan meminjam dana kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Kredit Usaha Kecil (KUK).

Ia mendapat uang pinjaman sebesar Rp250 juta. Dari situ, Sugeng mulai mengembangkan lagi usahanya yang diberi nama UD Gelora. Tak ada jalan yang tak mulus, ungkapan itu cocok untuk menggambarkan perjalanan bisnis Sugeng.

Pada 2007, usahanya apelnya mengendur lagi. Petani apel mulai lesu dan putus asa lantaran hasil produksinya dihargai jauh dari harga pasar. Tak sedikit dari mereka kolaps.



"Banyak petani yang kolpas karena waktu itu pupuk dan biaya operasional semakin mahal, sementara produknya dijual murah," cerita sugeng di Gudang pemasok apel miliknya, Batu, Malang, akhir pekan lalu.

Setelah menimbang-nimbang, Sugeng memutuskan untuk kembali meminjam uang kepada BCA. Kali ini jumlahnya cukup besar, Rp600 juta.

Uang itu ia gunakan untuk membangun pasar dan kemitraan dengan petani apel di kota Batu. Tak hanya itu, Sugeng juga ikut berperan dalam menjaga mutu produk agar harga apel bisa bersaing di pasaran.

"Kita bantu harga dan mutunya. Sekarang kan lebih bagus. Bentuknya juga menarik," ujar Sugeng.

Semakin hari usaha Sugeng makin berbuah manis. Dalam sehari dia bisa memproduksi enam ton apel dengan beragam jenis. Ada apel Rome Beauty, Manalagi, Anna, hingga Granny Smith.

"Kalau Rome Beauty harga di petani Rp14 ribu per kilogram (kg) dijual di supermarket Rp28 ribu. Manalagi di petani Rp12 ribu di supermarket Rp26 ribu per kilogram," kata Sugeng.

Pasokan apel miliknya itu berasal dari 350 petani yang bermitra dengannya. Kini, apel-apel itu sudah tersebar ke seluruh pulau Jawa, Bali, Medan, Kalimantan, hingga Timor Leste.



Guna mengembangkan usahanya agar bisa bersaing di pasar global, Sugeng kembali meminjam Rp800 juta pada BCA pada 2014. Dia juga berencana melebarkan bisnisnya ke pembuatan sari apel dan kripik apel.

"Nanti mau pinjam lagi ke BCA. Sekarang kan pabriknya belum selasai," ujar dia.

Senior Vice President (SPV) Divisi Bisnis Komersial Dan SME BCA Daniel Darmawan menyebut, Sugeng sebagai contoh pengusaha UKM yang sukses didukung BCA. Sugeng sudah menjadi debitur KPR BCA sejak 2002.

Lantaran hubungan Sugeng dengan BCA berjalan baik, dia dizinkan melakukan cross selling untuk Kredit Usaha Kecil (KUK) BCA dengan plafon Rp300 juta. Daniel menturkan, BCA berkomitmen membantu mengembangkan UKM di Tanah Air.

"Pak Sugeng Slamet contoh pengusaha UKM yang didukung oleh BCA. Kami dalam melayani transaksi perbankan dengan nasabah selalu berusaha menawarkan solusi yang dibutuhkan, termasuk KUK BCA yang merupakan kredit usaha dengan plafon maksimal Rp1 miliar dengan bunga yang menarik. Kami ingin para pengusaha UKM dapat turut berkembangn bersama dengan BCA," papar Daniel Darmawan.


(AHL)

Pemerintah Masih Godok Pembentukan <i>Holding</i> BUMN Jasa Keuangan

Pemerintah Masih Godok Pembentukan Holding BUMN Jasa Keuangan

4 hours Ago

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menggodok pembentukan holding BUMN di sektor …

BERITA LAINNYA