Ketua OJK Nilai Bank Muamalat dalam Kondisi Sehat

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 11 Apr 2018 14:12 WIB
ojkbank muamalat
Ketua OJK Nilai Bank Muamalat dalam Kondisi Sehat
Ketua DK-OJK Wimboh Santoso (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai PT Bank Muamalat Indonesia Tbk dalam kondisi sehat meski berencana melakukan right issue untuk menambah modal perusahaan. Bahkan, Bank Mumalat dianggap masih tetap bisa beroperasi secara normal tanpa ada gangguan yang berarti.

"Saat ini Muamalat beroperasi secara normal dengan likuidtas yang kuat, dana yang sustain, dana sangat murah, dan permodalan di atas minimum threshold," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dalam rapat dengan Komisi XI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 11 April 2018.

Dirinya menambahkan rencana penambahan modal oleh Bank Muamalat adalah hal yang wajar dalam industri perbankan. Apalagi Bank Muamalat harus terus tumbuh secara bisnis serta menjalankan fungsi intermediasinya dengan menyalurkan pembiayaan sebagai perbankan.

Menurut dia apa yang dilakukan pemegang saham pengendali dengan menggandeng PT Minna Padi sebagai stand by buyer untuk right issue Bank Muamalat adalah hal yang wajar. Meskipun pada akhirnya kesepakatan urung terjadi, itu pun hal yang biasa terjadi.

"Pemegang saham pengendali telah menggandeng Minna Padi dan ini berencana memasukan dana untuk suntikan modal kepada Bank Muamalat. Ini proses yang harus dilalui apabila pemegang saham mayoritas atau pengendali mengalami kendala untuk memasukkan tambahan modal untuk bank yang dimilikinya," jelas dia.

Kondisi likuiditas Bank Muamalat dari Financing to Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 86,14 persen pada 2017 lalu. Sementara dari sisi rasio kecukupan pemenuhan modal minimum (CAR) Bank Muamalat tercatat 11,58 persen per September 2017, atau berada di atas ketentuan yang berlaku.

Hingga saat ini, Bank Muamalat Indonesia masih dimiliki pemegang saham pengendali dari Islamic Development Bank atau IDB sebesar 32,74 persen, Boubyan Bank, Kuwait sebesar 22,0 persen, Atwill Holdings Limited, Saudi Arabia sebesar 17,91 persen, dan National Bank of Kuwait sebesar 8,45 persen.

 


(ABD)