Menteri Rini: Perombakan Direksi BUMN Merupakan Hal Biasa

Daviq Umar Al Faruq    •    Sabtu, 15 Sep 2018 17:17 WIB
kementerian bumn
Menteri Rini: Perombakan Direksi BUMN Merupakan Hal Biasa
Menteri BUMN Rini Soemarno. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq

Malang: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno sengaja merombak direksi beberapa perusahaan pelat merah belakangan ini. Perombakan itu dinilainya merupakan hal yang biasa.

"Enggak apa-apa pergantian biasa itu," katanya singkat di Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, 15 September 2018.

Saat ditanya apakah perombakan sejumlah direksi BUMN tersebut akan menurunkan performa perusahaan, Rini yakin hal itu tidak akan terjadi.

"Enggak, enggak lah," ujar mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia periode 2001-2004 ini.

Sebelumnya Menteri Rini merombak direksi beberapa perusahaan BUMN untuk mencari siapa yang tepat untuk memimpin dan mengurus perusahaan.

Hal itu sekaligus menanggapi usulan perubahan jajaran direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yakni jabatan direktur utama yang sebelumnya dijabat oleh Pahala N Mansury menjadi  I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra.

Ia mengatakan perombakan dilakukan lantaran ingin menetapkan orang yang benar-benar ahli untuk menduduki kursi direksi.

"Ada putar-putaran. Di mana expertise-nya (keahliannya) kita lihat, yang satu lebih baik di sini, yang satu ke tempat lain," kata Rini saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu, 12 September 2018.

BUMN Ciptakan Banyak Program untuk Dorong UMKM

Selain menentukan ahli, direksi juga dituntuy untuk membuat banyak program yang mendorong penciptaan usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM). Upaya itu dilakukan membantu agar usaha-usaha kecil dapat naik kelas.

"Jadi kita ada program-program nya, kita ada rumah kreatif, kita juga memberi pembiayaan yang super mikro antara dua sampai lima juta untuk 3,2 juta ibu-ibu seluruh Indonesia," jelas dia.

Selain itu Rini mengaku baru mendengar bahwa sebetulnya di setiap kementerian terdapat anggaran untuk UMKM. Hanya saja anggaran tersebut belum terkoordinasi dengan baik.

"Kami sendiri karena BUMN sebetulnya lebih berfungsi sebagai perusahaan jadi kita dorongnya memang dari program CSR kita, program sponsorship kita. Tapi kalau memang pemerintah bersama-sama bisa mendorong ini, saya yakin akan menjadi lebih baik," ungkap dia.

Rini menambahkan tantangan yang paling utama yang dirasakan oleh wirausahawan muda saat ini adalah masalah permodalan. Oleh karena itu perusahaan BUMN kini dituntut untuk mengingkatkan untuk memberikan modal kepada para wirausaha muda.

"Sehingga mereka bisa memulai usaha dan kemudian kita jaga supaya usahanya betul-betul bisa berkembang. Nah inilah yang mungkin perlu kerjasama antara BUMN, pemerintah dan swasta," pungkas dia.


(SCI)