Ekspor Indonesia Terkendala Diskriminasi di Negara Tujuan

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 07 Aug 2018 19:30 WIB
ekspor
Ekspor Indonesia Terkendala Diskriminasi di Negara Tujuan
Ekspor. MI/RAMDANI.

Jakarta: Pemerintah terus berupaya menggenjot pertumbuhan ekspor nasional demi mendorong perekonomian nasional. Sayangnya sejumlah eksportir justru mengeluhkan adanya diskriminasi yang diterapkan oleh negara tujuan untuk beberapa produk ekspor asal Indonesia.

Direktur Hubungan Pemerintah Great Giant Food (GGF) Welly Soegiono menceritakan, produk asal Indonesia dibebankan bea masuk yang tinggi dibandingkan negara lain. Contohnya untuk produk pisang dan nanas yang diekspor oleh GGF dikenakan biaya yang lebih mahal di sejumlah negara.

"Ke Korea pisang kita (dikenakan bea masuk) 30 persen, tapi Vietnam ke Korea beda. Pisang kita ke Jepang tiga persen lebih mahal daripada Filipina. Kemudian ke Eropa 15 persen, Filipina nol persen," kata dia dalam Gathering Eksportir Indonesia di Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jakarta Timur, Selasa, 7 Agustus 2018.

Selain dikenakan bea masuk yang lebih mahal, beberapa negara justru menolak produk asal Indonesia. Misalnya saja untuk nanas Indonesia yang tidak diterima di Tiongkok karena tidak adanya perjanjian antara kedua negara sehingga Tiongkok memilih nanas dari Meksiko.

"Nanas ke Tiongkok kita enggak bisa masuk, karena belum ada perundingan pemerintah Indonesia dengan Tiongkok. Tiongkok ambil dari Meksiko yang jauh dari dia, kenapa dia enggak ambil yang lebih dekat, di Indonesia," jelas dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerima keluhan eksportir ini dan berjanji akan mencarikan jalan keluar. Menurut dia, masukan ini menjadi hal yang sangat baik sehingga ke depannya pemerintah bisa memperbaiki kerja sama dengan negara lain.

"Ini adalah kritik yang sangat bagus, dan saya akan sampaikan ke Menko Perekonomian, Saya akan sampaikan langsung kepada kabinet. Seharusnya Indonesia bisa lobi, terutama negara sesama ASEAN, Asia. Apalagi kalau dari sesama ASEAN, seharusnya nggak boleh ada diskriminasi," pungkasnya.


(SAW)