Kuartal II-2017

BSM Bukukan Fee Based Income Rp469 Miliar

Angga Bratadharma    •    Rabu, 09 Aug 2017 12:40 WIB
bsm
BSM Bukukan <i>Fee Based Income</i> Rp469 Miliar
Suasana konferensi pers Bank Syariah Mandiri terkait paparan kinerja di kuartal II-2017 (Foto: MTVN/Angga Bratadharma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Syariah Mandiri (BSM) membukukan Fee Based Income (FBI) sampai dengan Juni 2017 mencapai sebesar Rp469 miliar. Adapun perolehan tersebut mengalami pertumbuhan sebanyak 10,95 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Rp423 miliar.

Direktur Mandiri Syariah Choirul Anwar membenarkan bahwa FBI mampu tumbuh sebanyak 10,95 persen di Juni 2017 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Dengan perkembangan yang sangat positif tersebut, BSM mencatatkan laba bersih triwulan II-2017 sebesar Rp181 miliar.

"Laba bersih itu tumbuh sebesar delapan persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp167,64," tutur Choirul, dalam sebuah konferensi pers tentang paparan kinerja Mandiri Syariah triwulan II-2017, di Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.

Selain itu, BSM terus memperbaiki kualitas pembiayaan. Hal ini tercermin dari rasio Non Performing Finance (NPF) Gross yang turun menjadi 4,85 persen dari semula 5,58 persen pada triwulan II-2016. Sedangkan, NPF Nett pada triwulan II-2017 turun menjadi 3,23 persen dibandingkan triwulan II-2016 yang sebesar 3,74 persen.

Saat ini, BSM bank Buku III dengan ekuitas Rp6,57 triliun. Sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga pada level 14,37 persen yang meningkat dibandingkan dengan posisi Juni 2016 yang sebesar 13,69 persen. Dari sisi efisiensi dengan indikator CER Mandiri Syariah membaik yang berada di level 52,10 persen.

Lebih lanjut, Choirul Anwar mengungkapkan, selain pertumbuhan bisnis, BSM juga fokus pada penyelesaian kualitas aktiva yang ditempuh dengan melakukan restrukturisasi, recovery, dan secara disiplin menerapkan monitoring nasabah watchlist serta pengelolaan kolektibilitas.

"Dengan fokus tersebut, pada triwulan II-2017, optimalisasi recovery berhasil mencapai Rp251 miliar atau tumbuh 21,91 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp206,31 miliar," pungkasnya.


(ABD)