Strategi Bisnis Karet Bergairah, Kurangi Ekspor!

Budi Warsito    •    Selasa, 20 Sep 2016 15:05 WIB
karet
Strategi Bisnis Karet Bergairah, Kurangi Ekspor!
Ilustrasi petani karet. (FOTO: Antara/Andika Wahyu)

Metrotvnews.com, Medan: ‎Harga karet yang masih di bawah ekspektasi para petani karet mengakibatkan penurunan produksi di Sumatera Utara (Sumut) akhir-akhir ini. Bahkan, penurunan produksi karet tersebut mencapai 7.000 ton per bulan.

"Para petani berhenti berproduksi dan memilih beralih profesi ke sejumlah pekerjaan lain, agar tetap bisa menghidupi keluarga mereka," ungkap Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia‎ (Gapkindo) Sumatera Utara Edy Irwansyah‎, di Medan, Sumut, Selasa (20/9/2016).

Menurutnya, jika Agree Export Tonnage Scheme (AETS) dihentikan, maka akan berdampak pada harga karet yang kembali jatuh di pasar internasional. Harga diprediksi akan jatuh hingga di bawah USD1 dan sangat berbahaya untuk keberlangsungan produksi karet di tingkat petani.

Oleh karena itu, ‎Gapkindo menegaskan, kesepakatan skema pengurangan ekspor harus dilanjutkan untuk menjaga kesetabilan harga karet serta eksistensi industri karet di dalam negeri.

"Kita mendukung pengurangan ekspor. Supaya harga stabil dan meningkat sampai pada kestabilan yang kita inginkan di kisaran USD2 per kilogram. Supaya bisnis karet kembali bergairah. Kalau dihentikan, bisa-bisa harga karet jatuh di bawah USD1. Kalau sampai begitu, petani tidak akan mau berproduksi dan kita akan kesulitan mendapatkan bahan baku,"‎ bebernya.

‎Sampai saat ini, lanjutnya, masih adanya kecenderungan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Di mana pasokan lebih besar, maka dari itu AETS ini harus dilanjutkan. Harapan dan tujuan dilanjutkannya AETS yang keempat kali ini, utamanya agar pasokan dan permintaan global lebih seimbangan‎.

"Jadi sepanjang harga itu belum mencapai USD2, maka bisnis karet tidak menggairahkan bagi petani. 85 persen produksi karet kita adalah karet rakyat. Yang bertahan ini adalah karena kondisi geografi yang tidak bisa dihindarkan untuk menanam karet. Baik karena lahannya berada di pegunungan, lereng gunung serta daerah-daerah yang memang hanya baik ditanami karet," jelas Edy.

"Sejak diumumkannya AETS keempat pada 1 Januari 2016 lalu, harga karet sampai hari ini sudah naik sekira 29,6 sen dolar AS per kilogram dari harga sebelumnya yang hanya 103 sen dolar AS per kilogram. Harga karet juga sempat menyentuh hingga 150 sen dolar AS per kilogram namun berfluktuasi kembali. Pemangkasan ekspor sudah terbukti berhasil menaikkan harga sehingga harus dilanjutkan," paparnya.

AETS sudah dilakukan sebanyak empat kali hingga 31 Agustus 2016 lalu. AETS merupakan kesepakatan yang dihasilkan tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk mendongkrak harga karet yang jatuh di pasar internasional.

Adapun AETS pertama dilakukan pada 2002, yang berhasil memangkas ekspor karet nasional sebesar 10 persen hingga tersisa 1,2 juta ton saja. Yang kedua dilakukan pada 2009, yang berhasil memangkas ekspor karet Indonesia di setiap kuartalnya sebesar 116.000 ton, dengan ekspor per kuartal yang diizinkan mencapai lebih dari 499.459 ton.

Sementara AETS ketiga, dilaksanakan pada kuartal ke-4 2012 sampai kuartal I-2013 dengan total pemangkasan ekspor mencapai 187.689,6 ton, dengan realisasi ekspor mencapai 1,2 juta ton. Sementara AETS keempat, dilakukan sejak 1 Maret 2016 hingga 31 Agustus 2016, yang telah berhasil memangkas ekspor karet mencapai 247.350 ton.


(AHL)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA