Praktik Curang Pengusaha Rafinasi Imbas Kesalahan Pemerintah Sebelumnya

   •    Minggu, 30 Sep 2018 23:41 WIB
gula
Praktik Curang Pengusaha Rafinasi Imbas Kesalahan Pemerintah Sebelumnya
Gula. MI/Susanto..

Jakarta: Pakar Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menegaskan praktik rembesan Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang terjadi saat ini merupakan kesalahan pemerintah sebelumnya. Di mana saat itu sebanyak 11 pabrik gula rafinasi diizinkan berdiri tanpa punya perkebunan tebu.

"Sudah pasti mereka akan meminta kebijakan raw sugar impor, sebab mereka berdiri tanpa memiliki perkebunan," ungkap Dwi saat dihubungi Media Indonesia, Minggu, 30 September 2018.

Dwi menyampaikan, disparitas harga antara gula rafinasi dengan Gula Kristal Putih (GKP) menjadi imbas dari raw sugar impor yang dilakukan pengusaha gula rafinasi. Sehingga gula rafinasi dinilai lebih murah dibandingkan dengan GKP.

"Legal dan ilegal hal tersebut selalu terjadi sebab selain pada pengusaha makanan dan minuman (mamin) gula rafinasi pun dijual di pasar konsumsi," kata dia.

Selain itu, kata Dwi, indikasi lainnya adalah GKP yang belum mencukupi kebutuhan pasar. Sehingga gula rafinasi masih menjadi pilihan konsumsi di pasar.

"Sudah barang tentu apabila ada praktik curang dikalangan pengusaha rafinasi tugas pemerintah untuk menindak. Jangan sampai merugikan para petani tebu," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Dewan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) meminta Kementerian membekukan izin usaha perusahaan gula rafinasi. Hal ini disebabkan penemuan kasus perembesan Gula Kristal Rafinasi (GKR) di Cilegon, Banten dan sejumlah daerah di Pulau Jawa.


(SAW)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

3 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA