DBS: Indonesia Terjebak Emerging Market Sell-Off

   •    Sabtu, 08 Sep 2018 18:06 WIB
pertumbuhan ekonomiekonomi indonesia
DBS: Indonesia Terjebak <i>Emerging Market Sell-Off</i>
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Jakarta: DBS Group Research dalam laporannya bertajuk 'Indonesia: Terjebak dalam Emerging Market Sell-Off' mengungkapkan bahwa pasar keuangan Indonesia terus merasakan ketegangan dari emerging market sell off, meski kondisi domestik saat ini menguntungkan. Adapun pertumbuhan ekonomi semester pertama meningkat menjadi 5,2 persen YoY.

"Sementara Agustus lalu inflasi CPI melemah dari yang diprediksikan yakni 3,2 persen YoY atau stabil dari Juli. Hal ini senada dengan target Bank Indonesia pada kisaran 2,5-4,5 persen. Sedangkan defisit transaksi berjalan fiskal masih sesuai dengan yang dianggarkan," kata Economist DBS Bank Radhika Rao, seperti dikutip dari laporannya, Sabtu, 8 September 2018.

Menurutnya terdapat dua poin sulit yang masih bertahan. Meski defisit transaksi berjalan di bawah tiga persen pada tahun ini, lanjutnya, hal tersebut diharapkan akan lebih baik dibandingkan dengan di 2017, menyiratkan kebutuhan pembiayaan yang lebih tinggi.

"Kedua, kepemilikan asing yang cukup besar terhadap obligasi domestik, ditambah dengan utang korporasi USD yang lebih tinggi," tuturnya.

Ia tidak menampik pihak berwenang telah secara aktif mendukung pasar keuangan domestik dan pasar obligasi selama serangan volatilitas baru-baru ini. Di tengah penurunan yang lebih luas dalam mata uang regional, langkah-langkah intervensi membantu memperlancar downdraft tetapi akan menjadi tantangan untuk memutar balik arah saat ini.

Dengan reformasi subsidi atau liberalisasi untuk harga bahan bakar yang tidak mungkin terjadi sebelum pemilihan umum tahun depan, tambahnya, lebih banyak kebijakan bertahan dan tindakan administratif yang bertujuan untuk menjaga mata uang dan defisit transaksi berjalan diperkirakan akan dilakukan.

"Langkah-langkah untuk memperlancar nilai tukar dan risiko suku bunga untuk korporasi juga telah diambil. Sampai sekarang, BI sudah mengurangi transaksi minimum dari hedging swap FX menjadi USD2juta yang sebelumnya USD10 juta dan berencana untuk memperkenalkan OIS rates," pungkasnya.


(ABD)