Perputaran Uang Selama Pilkada Diperkirakan Capai Rp25 Triliun

Suci Sedya Utami    •    Rabu, 27 Jun 2018 19:31 WIB
pilkada
Perputaran Uang Selama Pilkada Diperkirakan Capai Rp25 Triliun
Illustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.

Jakarta: Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta Sarman Simanjorang memperkirakan perputaran uang selama pilkada serentak 2018 mencapai Rp25 triliun.

Sarman mengatakan perputaran uang tersebut berasal dari dua sumber. Pertama dari pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menggelontorkan Rp20 triliun untuk penyelenggaraan pilkada di 171 daerah. Uang tersebut digunakan untuk mencetak surat suara, logistik, biaya membayar petugas honor, biaya membayar masyarakat yang ikut terlibat dalam pengambilan suara, dan lain sebagainya.

"Jadi itu resmi dari pemerintah yang Rp20 triliun," kata Sarman di Kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Rabu, 27 Juni 2018.

Sisanya Rp5 triliun merupakan uang yang dikeluarkan para calon untuk melakukan kampanye. Dia mensimulasikan dari 17 provinsi yang menggelar pilkada rata-rata setiap calon mengeluarkan Rp75 miliar. Artinya jika ditotal , seluruh provinsi maka uang yang dikeluarkan para calon mencapai Rp1,27 triliun.

Lalu ada 39 kota yang menggelar pilkada di mana setiap calon diperkirakan menggelontokan dana kampanye Rp10 miliar maka bila ditotal Rp390 miliar.
Serta ada 115 kabupaten yang diperkirakan akan menggelontorkan Rp20 miliar per orang. Sehingga uang yang dikeluarkan mencapai Rp2,3 triliun untuk kampanye.

Uang tersebut, kata Sarman, digunakan untuk menyewa panggung, sound system, hingga artis penyemarak kampanye. Pedagang UKM di sekitar juga terkena dampak dari pilkada kali ini. Sehingga pilkada berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

"Dan itu juga memberikan keuntungan bagi UKM karena kebanyakan atribut kampanye ini kebanyakan juga dibuat oleh UKM," jelas dia.

 


(SAW)


Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

6 hours Ago

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang sejak 1 Februari 2014 berhenti beroperasi akibat k…

BERITA LAINNYA