Pertimbangan Menteri Basuki Sebelum Turunkan Tarif Tol

Nia Deviyana    •    Selasa, 12 Feb 2019 15:45 WIB
kementerian pekerjaan umum
Pertimbangan Menteri Basuki Sebelum Turunkan Tarif Tol
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Medcom/Husen M.

Jakarta: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meminta Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) membahas kemungkinan penurunan tarif tol.

Basuki meminta BPTJ dan ATI mempertimbangkan beberapa faktor seperti faktor sosial-ekonomi masyarakat, perilaku pengemudi, hingga jumlah moda transportasi darat sebelum kebijakan itu dibuat.

"Jadi tidak semata tarif, tapi ada beberapa hal. Misal, kalau turun pedagang Pantura pasti protes, kalau warung pindah ke tol jadi sepi," jelas Basuki saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019.

Kemudian, dia juga memperjitungkan bahwa pengiriman barang yang kini 95 persen menggunakan moda transportasi darat pasti bertambah presentasenya jika tarif tol diturunkan. 

"Padahal kita kepenginnya mereka pindah ke rel dan kapal sehingga jalan lebih awet," tambah dia.

Basuki juga mempertimbangkan subsidi silang untuk menurunkan tarif tol. Namun, ia bakal melakukan peninjauan terhadap reaksi masyarakat terlebih dahulu.

Di sisi lain, Deputi bidang kajian dan pengelolaan isu ekonomi strategis Kantor Staf Presiden Denni Puspa Purbasari menilai tarif tol sebanding dengan efisiensi yang didapatkan pengguna jalan, yang pada akhirnya berdampak pada penghematan biaya operasional.

"Misal, semula mengirim barang dari Surabaya ke Jakarta butuh waktu dua hari, artinya menyewa truknya juga butuh dua hari. Tapi dengan tol, bisa hanya 12 jam terlampaui. Sewa truknya tidak harus dua hari. Dengan demikian memangkas ongkos," ujar Denni, belum lama ini.

Selain itu, ada nilai tambah lain yang bisa didapatkan, yakni barang yang dikirim masih segar karena tidak harus melalui perjalanan yang lama. Dari aspek emosional pengemudi juga lebih baik karena tidak menghabiskan banyak waktu di jalan.

"Dengan kualitas barang yang baik, daya konsumsi tentu akan naik. Supir saat mengemudi juga tidak setegang seperti memakai jalan non-tol," tambah dia.

Denni berhipotesa apabila jalan tol ramai, itu artinya infrastruktur tersebut berhasil memberikan nilai bagi penggunanya. 

"Kalau dia tidak bisa mengalahkan ongkos tol, pasti akan lewat pantura. Kalau manfaatnya lebih besar dari ongkos, pasti akan ramai," pungkasnya.





(SAW)


PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

2 days Ago

Perlakuan pengenaan pajak pendapatan nilai (PPN) untuk avtur bagi penerbangan domestik di Indon…

BERITA LAINNYA