Produksi Beras Kabupaten Malang Surplus 78 Ribu Ton

   •    Senin, 24 Dec 2018 14:46 WIB
beras
Produksi Beras Kabupaten Malang Surplus 78 Ribu Ton
Beras. MI/BENNY BASTIANDY.

Malang: Produksi beras yang dihasilkan petani di wilayah Kabupaten Malang selama kurun waktu 2018 surplus sekitar 78 ribu ton atau meningkat jika dibandingkan surplus tahun lalu yang mencapai 75 ribu ton.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Nasri Abdul Wahid mengatakan surplus beras 78 ribu ton tersebut meningkat sekitar 2-3 persen dari capaian surplus tahun lalu.

"Hampir semua komoditas pangan dan nonpangan yang diproduksi di Kabupaten Malang mengalami peningkatan, kecuali bawang putih dan kedelai," kata Nasri dikutip dari Antara, Senin, 24 Desember 2018.

Meski mengalami peningkatan produksi (surplus), lanjut Nasri, kualitas bahan pangan yang dihasilkan masih belum menggembirakan dan sesuai standar karena terkendala benih.

"Saat ini kami masih belum mandiri benih alias masih mengandalkan dari pihak lain. Namun, tahun depan petani kami dorong untuk mengggunakan benih lokal sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan pangan yang  diproduksi," ucapnya.

Menyinggung target 2019, Nasri mengaku dirinya tidak berani berandai-andai. Selama ini Kabupaten Malang sudah sesuai arah.

"Bisa mempertahankan capaian tahun ini saja sudah cukup bagus dan lumayan. Ke depan, kami akan memperbanyak penggunaan benih yang tahan hama dan wereng, sehingga produksi per hektare ha) bisa mencapai 8-9 ton," jelas dia.

Selain benih yang menjadi kendala produktivitas, kata Nasri, semakin menyusutnya lahan pertanian produktif di wilayah Kabupaten Malang juga ikut andil dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan, khususnya beras di daerah itu.

"Kendala yang tidak bisa dihindari, bahkan terus bertambah adalah keberadaan lahan pertanian produktif yang kian menyusut sebagai dampak pembangunan. Untungnya pada 2019 sudah ada Perbup yang mengatur LP2B (Lumbung Pertanian Pangan Berkelanjutan). Sudah jadi tinggal disahkan saja perbupnya," kata Nasri.

Oleh karena itu, pihaknya hanya mengacu aturan itu, jika ada investor yang mau memakai lahan LP2B, sebagai konsekuensi, harus menyediakan lahan pengganti yang luasnya tiga kali lipat.

"Hal ini yang membuat kami percaya diri dan untuk 2019 ketahanan pangan di Kabupaten Malang aman, termasuk tahun-tahun berikutnya," paparnya.

Lahan produktif (persawahan) di Kabupaten Malang saat ini mencapai 40 ribu ha lebih, namun setiap tahun menyusut rata-rata sekitar 3.000 ha akibat dari dampak pembangunan, baik untuk membangun perkantoran maupun industri dan perumahan.


(SAW)