Profit Kecil Jadi Alasan Pelaku Industri Enggan Bangun Pabrik Garam

   •    Selasa, 15 Aug 2017 10:57 WIB
garam
Profit Kecil Jadi Alasan Pelaku Industri Enggan Bangun Pabrik Garam
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Deputi Teknologi Agro Industri dan Bioteknologi BPPT Eniya Listiani Dewi mengatakan Indonesia sudah memiliki teknologi untuk memproduksi garam sebagai bahan baku industri farmasi. Sayangnya hal itu tidak diikuti oleh produksi untuk garam industri dan konsumsi.

"Kenapa mess industri itu tidak mau membangun pabrik garam yang kualitasnya diatas 97 persen, karena profit marginnya kecil," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Selasa 15 Agustus 2017.

Eniya mengatakan keputusan pemerintah untuk mengimpor garam dari Australia sebanyak 75 ribu ton hanya sebagai solusi jangka pendek. Sementara untuk menekan potensi kelangkaan garam jangka menengah dan panjang pemerintah harus melakukan berbagai upaya lain.

Menurut Eniya, keputusan pemerintah untuk mengimpor garam bukan tanpa alasan. Meskipun Indonesia memiliki garis pantai yang panjang namun tak semuanya bisa dijadikan ladang produksi garam.

Yang perlu dilakukan pemerintah hanya mengubah pemikiran bagaimana agar impor garam dalam dua tiga tahun ke depan tak dilanjutkan. Eniya pun menawarkan terobosan untuk membangun industri garam di kawasan Indonesia timur.

"Dengan begitu selain mengatasi lahan garam yang sudah ada seperti di Jawa, Madura, dan lain-lain, kita juga bisa mengintensifkan hal lain seperti mengatasi impor dengan membangun secara masif agar produksinya bisa murah," kata Eniya.

Selain itu, kata Dia, ada dua hal lain yang perlu pemerintah perhatikan, yakni konsep perubahan atau revitalisasi ladang garam itu sendiri dan pembangunan pabrik garam industri.

"Kalau ini bisa dilakukan petani tidak lagi mengandalkan cuaca dan nanti panennya bisa hanya 4-5 hari dan kualitasnya tinggi," katanya.





(MEL)