Ekonomi Lesu, Banyak Toko di Batam Tutup

Anwar Sadat Guna    •    Minggu, 13 Aug 2017 16:47 WIB
ekonomi indonesia
Ekonomi Lesu, Banyak Toko di Batam Tutup
Beberapa konter di Nagoya Hill tutup dan tak beroperasi lagi, salah satu di antaranya Apple Store yang berada di lantai dasar Nagoya Hill. MTVN/Anwar Sadat Guna.

Metrotvnews.com, Batam: Perekonomian Provinsi Kepri yang lesu saat ini sangat dirasakan pelaku usaha, khususnya di Batam. Banyak di antara mereka terpaksa menutup usaha karena tak mampu bertahan di tengah menurunnya daya beli masyarakat dan banyak produk tidak terjual.

"Kondisi ekonomi yang lesu ini benar-benar terasa. Sudah hampir sebulan saya menutup toko. Selain sepi pembeli, kami tak mampu menanggung biaya operasional yang cukup tinggi. Belum lagi kami harus membayar sewa lokasi untuk usaha," ungkap Aliong, saat ditemui Metrotvnews.com di NH Seluler di Nagoya Hill, Batam, Minggu, 13 Agustus 2017.

Usaha miliknya yang ditutup adalah Toko Canon Jaya. Tokonya menjual aneka kamera DSLR merek Canon beserta alat pendukung. Dia juga menjual beragam merek smartphone dan aksesorinya.

baca : Ramalan Partai Perindo Jika Ekonomi Lesu Hingga 2016

"Kami tak mampu bertahan. Pengunjung benar-benar sepi. Dalam sehari, belum tentu kami dapat pembeli," ujarnya.

Di tengah menurunnya daya beli masyarakat saat ini, Aliong juga harus membayar sewa lokasi usaha yang relatif tinggi. Belum lagi gaji karyawan.

"Lokasi Toko Canon Jaya kami sewa sebesar Rp150 juta setahun. Angka tersebut tak sebanding dengan tingkat penjualan barang di toko kami. Makanya kami memilih menutup toko tersebut," ungkapnya.

Sebelum ekonomi Kepri lesu, sambung Aliong, barang-barang di tokonya banyak yang laku. Bahkan sekira tahun 2014 hingga 2015, ia bisa menjual 3 hingga lima unit kamera DSLR Canon per hari.

"Namun setelah 2015 sampai memasuki 2017, penjualan mulai menurun. Pengunjung yang datang mulai sepi. Wisatawan dari luar juga jauh berkurang," tuturnya.

Sekadar diketahui, perekonomian di Kepri khususnya Batam mencapai masa keemasannya pada awal tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi di kota ini mampu mencapai angka 6,5-7 persen, di atas rata-rata nasional.

Angka tersebut mampu mengantarkan Batam di peringkat pertama dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera. Setelah itu, pertumbuhan ekonomi Kepri mulai menurun. Di triwulan IV-2016, pertumbuhan ekonomi Kepri berada di angka 5 persen dan terus menurun di triwulan I-2017 di angka 2,02 persen.

Di triwulan II-2017 pertumbuhan ekonomi Kepri merosot, hanya tumbuh 1,52 persen dan menempati peringkat 33 dari 34 provinsi di Indonesia. Aliong kini hanya menempati sebuah konter handphone yang lokasinya tak jauh dari Canon Jaya.

Di situ, dia hanya menjual aneka produk smartphone dan aksesorinya. "Kami berharap pada stakeholders di Batam dapat mencari solusi atas kondisi ekonomi Kepri yang lesu saat ini," ujar dia.

Selain Canon Jaya, beberapa toko di pusat perbelanjaan ternama di Batam, Nagoya Hill, juga tutup. Salah satunya, konter Apple Store yang berada di lantai dasar. Informasi yang dihimpun Metrotvnews.com, toko yang menjual berbagai produk Apple itu tak lagi memperpanjang sewa tokonya di lokasi tersebut.

"Sudah hampir sebulan ini toko Apple Store tutup. Mereka tak memperpanjang lagi sewa tempat usahanya. Kalau melihat situasi sekarang, daya beli masyarakat memang jauh berkurang di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di tempat kami pun kadang sepi pembeli," kata Yanto, karyawan sebuah toko elektronik yang berada di depan Apple Store.

Selain Canon Jaya dan Apple Store, sebuah toko perhiasan di lantai II Nagoya Hill juga tutup. Lagi-lagi informasi yang dihimpun Metrotvnews.com, toko ini juga tak memperpanjang lagi sewa tempat usahanya.

Menyikapi kondisi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepri mengimbau agar pemilik atau pengelola pusat perbelanjaan dapat membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi pelaku usaha.

"Kami harapkan dukungannya kiranya bersedia menurunkan sewa usaha yang dikelola di masing-masing pusat perbelanjaan. Hal ini dimaksudkan agar pelaku usaha dapat terus berusaha (berjualan) di tengah kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini," kata Ketua Kadin Kepri Ahmad Maruf Maulana kepada Metrotvnews.com, Minggu 13 Agustus 2017.

Penurunan biaya sewa usaha atau pemberian diskon minimal dalam satu tahun ke depan, kata Maruf, diharapkan mampu mengembalikan pertumbuhan ekonomi Kepri sehingga perekonomi di wilayah inj dapat kembali berjalan normal.

"Imbauan ini tak hanya kami tujukan kepada pengelola mal, tetapi juga kepada pengelola hotel, kawasan industri, industri pariwisata, termasuk bidang industri lainnya, seperti jasa dan perdagangan," ujarnya.

Target yang ingin dicapai dengan adanya penurunan harga sewa usaha tersebut, sambung Maruf, untuk menjaga agar pelaku usaha tetap dapat berusaha.

"Minimal bisa menutupi biaya operasional sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK)," pungkasnya.

 


(SAW)