Cerita Menteri Rini Tingkatkan Konektivitas di Indonesia

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 05 Dec 2017 19:56 WIB
bumn
Cerita Menteri Rini Tingkatkan Konektivitas di Indonesia
Menteri BUMN RI Rini Soemarno (Metrotvnews.com/Pelangi Karismakristi).

Tangerang: Menteri BUMN Rini Soemarno menyatakan bahwa banyak izin pembangunan tol yang sudah keluar sejak 1996, tapi pembangunannya terhambat karena masalah pembebasan lahan dan lainnya.

Maka Rini terus mendorong supaya percepatan pembangunan tol bisa terealisasi dengan cepat di Indonesia, khususnya kota Jakarta. Karena, tingkat kemacetannya sudah luar biasa. Ketika banyak tol dibangun, tingkat konektivitas di Indonesia semakin tinggi bila dibandingkan pada  tahun-tahun sebelumnya.

"Macet di mana-mana, bukan main dan ada yang menghitung kemacetan di Jakarta habiskan puluhan triliun. Dan setelah kami lihat banyak izin tol yang tidak dibangun padahal sudah keluar izinnya sejak 1996, akibat pembebasan lahan dan lainnya. Makanya kita mendorong supaya tol bisakita bangun. Karena tol mengurangi kemacetan," kata Rini, ditemui dalam acara 'BUMN Expose Infrastruktur‎ Untuk Peningkatan Produktivits dan Mobilitas Masyarakat' di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Selasa, 5 Desember 2017.

Pembangunan konektivitas yang terintegrasi, bilang Rini, merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab, selama ini tingkat konektivitas masih rendah, pada akhirnya berdampak besar pada biaya pengiriman logistik dan lainnya.

‎Demi membangun konektivitas, lanjut Rini, tidak bisa menggunakan dana APBN. Makanya, perusahaan BUMN harus turut serta membangun jalan dan tol, dengan cara menggandeng pemilik izin tol, seperti yang ada di Soreang.

‎"Itu pemilik izin CMNP dan akhirnya Wijaya Karya masuk menjadi pemilik saham dan dalam waktu 2,5 tahun selesai dan bisa mengurangi kemacetan rute ke Bandung," terang Rini yang sempat berkarir di Astra International.

Tak hanya di darat, Rini menekankan‎, konektivitas perlu ditingkatkan juga di laut dan udara. Pasalnya, jika pengiriman barang bisa melalui laut dan udara, maka banyak orang memilih keduanya, karena bisa lebih cepat dan efisien.

‎"Akhirnya kita tekankan pelabuhan-pelabuhan dikembangkan juga bandar udara (bandara. Pelabuhan tidak hanya di Jakarta dan Surabaya, namun juga pelabuhan penyebrangan dan perintis untuk angkutan barang dan penumpang seperti di Indonesia Timur. Itu untuk menurunkan cost produksi ekonomi kita," papar dia.

Hasil nyata peningkatan konektivitas di Indonesia Timur, Rini menambahkan, itu terlihat sekali pada harga semen, dari harga Rp2,5 juta menjadi Rp500 ribu. Tak hanya BUMN yang membuat konektivitas sukses di Timur, tapi menggandeng juga Kementerian Perhubungan.

"Itu menggunakan kapal dari makassar ke Timika. Hal seperti itu kita lakukan. Termasuk Bandara Silangit yang dulu kecil dan kurang bermanfaat. Namun, Presiden Jokowi menekankan pengembangan pariwisata seperti Danau Toba. Karena itu AP II mendorong supaya silangit bisa menjadi bandara intenrasional dan sekarang dari singapura langsung ke silangit. Itulah sinergi untuk mendorong pembangunan supaya memiliki daya saing tinggi dan efisiensi cost," pungkas wanita kelahiran 1958 ini.


(SAW)