Indonesia Perlu Tingkatkan Ekspor Barang dan Jasa

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 08 Feb 2018 18:33 WIB
ekspor
Indonesia Perlu Tingkatkan Ekspor Barang dan Jasa
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara (Desi Angriani Metrotvnews.com)..

Jakarta: Bank Indonesia menilai Indonesia perlu meningkatkan ekspor barang dan jasa. Hal itu sejalan dengan keinginan Presiden Joko Widodo yang ingin meningkatkan ekspor indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan ekspor barang dan jasa perlu ditingkatkan sehingga bisa meningkatkan pendapatan valas. Mirza bilang, Indonesia masih butuh banyak valas USD, terutama untuk membayar utang.

Dirinya menjelaskan, sebagai negara yang ingin membangun ekonominya, modal yang berasal dari dalam negeri tak cukup banyak untuk membayar pinjaman dalam valas. Oleh karena itu butuh modal dari luar negeri.

"Untuk membangun ekonomi buituh dana luar negeri. Nah untuk bayar bunga utang butuh valas, untuk bayar principal-nya juga perlu valas. Maka dari itu yang harus diperbesar adalah aktivitas ekspor dan jasa," kata Mirza di Jakarta, Rabu, 8 Februari 2018.

Mirza bilang, rasio utang luar negeri Indonesia terhadap ekspor barang dan jasa masing tinggi, yakni sebesar 179 persen. Apabila dibandingkan dengan Thailand yang rasionya hanya 45 persen, Indonesia masih tertinggal jauh.

Padahal rasio utang luar negeri Indonesia dengan Thailand berada pada level yang sama yakni sekitar 34-35 persen. Namun, kata Mirza, karena ekspor barang dan jasa di Thailand lebih maju, maka rasio antara utang dan ekspor lebih kecil.

"Thailand, dia punya pendapatan ekspor barang dan jasa itu besar sekali, sehingga rasio utang terhadap barang dan jasa hanya sekitar 45 persen," jelas Mirza.

Lebih jauh dia mengatakan, peningkatan ekspor barang dan jasa akan membuat neraca transaksi berjalan surplus. Saat ini transaksi berjalan masih mengalami defisit, meski bisa ditekan di bawah dua persen. Sementara Thailand, karena ekpornya bagus, maka transaksi berjalannya surplus.

"Thailand ekspor barang dan jasanya surplus, kalau kita kan masih defisit. Memang bisa dikendalikan di bawah dua persen, tapi masih defisit, sedangkan negara tetangga surplus," pungkas dia.



(SAW)