Kadin: Instrumen PINA Cocok Garap Proyek Brownfield

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 08 Nov 2017 16:41 WIB
proyek strategis nasional
Kadin: Instrumen PINA Cocok Garap Proyek <i>Brownfield</i>
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani. (FOTO: MTVN/Annisa Ayu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai skema investasi yakni Pembiayaan Investasi Non Anggaran (PINA) merupakan instrumentasi yang paling menarik bagi investor yang ingin menggarap proyek brownfield (proyek yang sudah jadi).

"PINA ini kan difokuskan pada proyek yang sudah brownfield, yang sudah jadi. Kita dari swasta kalau melihatnya ini justru yang paling menarik, karena sudah lebih jadi proyeknya," kata Ketua Kadin Rosan Roeslani di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu 8 November 2017.

Rosan menilai, melalui PINA maka risiko dan cash flow sudah bisa diprediksi dan terukur. Beberapa pengusaha yang sudah berminat saat ini tengah berkonsultasi dan berdiskusi dengan Bappenas mengenai instrumen itu.

"PINA ini yang appetite adalah para pengusaha, maupun dana pensiun, life insurance itu bisa berpartisipasi dan mereka sudah menyampaikan ketertarikannya lumayan banyak," ucap dia.

Didukung instrumen PINA, Rosan menambahkan dapat mendorong pertumbuhan emerging market Indonesia. Sebab, proyek yang sudah jadi dilepas kepemilikan sahamnya untuk digunakan membangun infrastruktur lainnya.

"Dalam kalau saya melihat untuk proyek yang sudah jadi ini bisa mengakeselerasi pertumbuhan emerging market," imbuh dia.

Sedangkan untuk perpetuity notes, lanjut Rosan, para pengusaha saat ini masih mengkaji kelebihan dan kekurangan instrumen itu. Kadin melihat untuk perpetuty notes dilakukan untuk investor jangka panjang.

"Itu kan seperti yang disampaikan Pak Menteri adalah near equity, jadi harus dilihat infrastrukturnya lebih dalam apakah perpetuity notes itu biasanya bunganya lebih rendah tapi ada profit sharing-nya. Nah itu mesti dilihat detail proyeknya," tutup dia.


(AHL)