BCA akan Naikkan Bunga Kredit 0,25-0,5% di Agustus

Fetry Wuryasti    •    Rabu, 11 Jul 2018 19:47 WIB
bca
BCA akan Naikkan Bunga Kredit 0,25-0,5% di Agustus
Ilustrasi. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari).

Jakarta: Bank Indonesia (BI) masih berpotensi agresif menaikkan suku bunga acuan menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga bank sentral AS (Fed Fund Rate) yang diprediksi akan dua kali kenaikan sampai akhir tahun.

Maka pada Agustus, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengonfirmasi bunga kredit harus naik. Sebab dengan telah naiknya 100 bps suku bunga acuan BI 7 Day Reverese Repo, BCA telah naikkan suku bunga deposito mereka sebesar empat kali.

"Agustus bunga pinjaman naik. Tapi belum tentu semua bunga pinjaman, yang naik seperti bunga KPR karena sudah murah di 5,88 persen, sehingga tidak mungkin tidak naik. Lalu kredit kendaraan bermotor di 3,17 persen flat rate, dan efektifnya di 6,5-7 persen. Jadi kemungkinan besar harus di-adjust mereka," ujar Dirut BCA Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Rabu, 11 Juli 2018.

Kenaikannya nanti akan bervariasi dari 0,25-0,5 persen tergantung pada segmen. "Saya mesti lihat angka dulu. Sedapat mungkin kami mau tahan jangan buru-buru bunga kredit naik. Tapi kalau mengganggu profitabilitas, ya terpaksa," tambah dia.

Sebab dia melihat setiap kebaikan Fed Fund Rate 25 bps, harus diimbangi dengan kenaikan BI 7 Day Repo Reverse Rate sebesar 50 bps.

"FFR dasarnya di 1,25 persen. Sedangkan BI rate base-nya 4,25 persen. Minimal BI rate mesti dinaikkan 0,5 persen. Minimal untuk bisa menenangkan kurs rupiah maka 0,5 persen setiap kenaikan 0,25 Fed Fund Rate, untuk menjaga keimbangan. Selisih tadi tidak bisa terus beda tiga persen. Spread-nya sekitar 3-4 persen," tutur dia.

Dia melihatnya wajar bila imbasnya ke permintaan kredit akan turun. Sebab bila nilai tukar yang memburuk, dampaknya akan jauh lebih besar ke sektor lainnya.

"Sebenarnya pilihan. Kalau bunga acuan tidak naik, kurs lemah. Kalau bunga naik tapi tidak semua orang pinjam uang. Tapi kalau kurs terganggu, termasuk minyak, ongkos produksi, bahan baku semua harga akan naik. Ini lebih merata dampaknya. Lebih bahaya daripada hanya naik bunga. Bahwa konsekuensi bunga naik, permintaan menurun ya pasti," tukas Jahja.

 


(AHL)