Empat Risiko Utama Penghambat Layanan Keuangan Digital

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 16 May 2017 16:52 WIB
ekonomi digital
Empat Risiko Utama Penghambat Layanan Keuangan Digital
Suasana konferensi pers Microsave Indonesia. (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Layanan keuangan digital rentan menghadapi berbagai risiko. Microsave Indonesia‎ mencatat setidaknya ada empat risiko utama penghambat penetrasi layanan keuangan digital.

Empat risiko itu didapat dari hasil riset yang melibatkan 1.414 pelanggan dan tersebar di 15 provinsi di Indonesia. Pelanggan yang diteliti merupakan perpaduan dari 886 pelanggan laku pandai dan 528 pelanggan layanan keuangan digital (LKD) dari sembilan provider utama di Indonesia.

Adapun dari 1.414 pelanggan, sekitar 1.011 merupakan pelanggan yang masih aktif menggunakan laku pandai dan LKD. Sedangkan 403 merupakan pelanggan tidak aktif.

"Empat risiko layanan keuangan digital terdiri dari kesadaran yang rendah terkait provider, produk, dan biaya layanan," ungkap Country Manager Microsave Indonesia Grace Retnowati di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017.

Baca: BI: Layanan Keuangan Digital Tergantung Infrastruktur

Selain itu, tambah Grace, kurangnya dukungan terhadap pelanggan, mekanisme penyampaian keluhan yang kurang memadai, serta masih rendahnya kredibilitas dan kepercayaan terhadap provider dan layanan yang disediakan, juga menjadi salah satu risikonya.

Menurut Grace, pertumbuhan layanan keua‎ngan digital di Indonesia yang cukup pesat, seiring adanya 290 ribu agen dan 3,2 juta akun atau rekening yang terdaftar di seluruh Indonesia.

Meski demikian, apabila tidak dikelola dengan baik, berbagai risiko akan muncul dan merugikan. Karena, hanya 22 persen masyarakat yang melek terhadap layanan keuangan dan delapan persen di antaranya yang tahu akan layanan keuangan digital.

"Dari 1.414 responden ditemukan pengetahuan masyarakat tentang layanan keuangan digital melalui Laku Pandai maupun LKD tergolong masih rendah. Dampaknya 42 persen dari total pelanggan tidak puas dengan agen laku pandai dan LKD," jelas Grace.

Baca: Awasi Perkembangan Keuangan Digital, BI Akan Bangun Fintech Office

Oleh karena itu, untuk menggenjot layanan digital keuangan, regulator dan penyedia layanan harus memastikan keamanan saluran layanan keuangan digital dan meningkatkan perlindungan pelanggan. Pasalnya, pelanggan tetap rentan terhadap berbagai risiko apabila tidak ada inisiatif perlindungan pelanggan dan manajemen risiko yang kuat.

Terkait peningkatan pemahaman dan kesadaran terkait layanan keuangan digital, Grace mengharapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) memiliki program literasi yang spesifik berbicara tentang layanan keuangan digital.

"Regulator bisa bekerja sama dengan pelaku industri untuk melakukan beragam program inovatif berdasarkan wawasan perilaku dengan menggunakan permainan atau alat interaktif," tutup Grace.

 


(AHL)