Reduksi FLPP Ancam Sejuta Rumah

   •    Jumat, 14 Jul 2017 11:15 WIB
sejuta rumahprogram sejuta rumah
Reduksi FLPP Ancam Sejuta Rumah
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Wahdi Septiawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah pihak mempertanyakan keseriusan pemerintah untuk mewujudkan program sejuta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Keraguan itu berlandaskan kebijakan pemotongan anggaran untuk kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi melalui skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Keberatan terhadap reduksi FLPP atau program subsidi rumah murah bagi kalangan MBR itu datang dari anggota Komisi V DPR Nizar Zahro.

"Kalangan MBR seperti buruh, nelayan, dan petani akan sulit mendapatkan rumah murah sebab anggarannya dipangkas serta target penerimaannya pun dikurangi," ujar Nizar saat dihubungi, Kamis 13 Juli 2017.

Dengan pengurangan anggaran itu, Nizar berharap Ditjen Pembiayaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) menggunakan bunga kredit yang telah dibayarkan masyarakat sebagai penutup kekurangan anggaran.

"Tapi itu pun tidak bisa menambah penerima manfaat. Prinsipnya, dengan pengurangan anggaran ini masyarakat yang ingin mendapatkan kredit rumah murah dari pemerintah berkurang jumlahnya," imbuh dia.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda sependapat dengan Nizar. Ali mengatakan kondisi pasar menengah ke bawah saat ini sedang meningkat.




"Ini sangaf kontraproduktif. Justru pasar untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah saat ini sedang tumbuh meningkat," kata Ali.

Ali mengatakan kalangan MBR atau menengah ke bawah justru sangat terbantu dengan skema pembiayaan FLPP dengan uang muka (DP) 1 persen dan bunga cicilan 5 persen ketimbang bunga cicilan komersial sebesar 8 persen ke atas.

"Artinya MBR yang tadi mudah membeli rumah jadi sulit," kata Ali.

Sebelumnya, alokasi anggaran untuk FLPP tahun ini yang semula dianggarkan Rp9,7 triliun menjadi hanya Rp3,1 triliun. Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PU-Pera Lana Winayanti mengatakan pihaknya terpaksa menurunkan KPR FLPP yang semula 120 ribu unit menjadi hanya 40 ribu unit.

Hal itu dipicu keterbatasan potensi kapasitas rumah yang mampu dikerjakan pengembang. Kendati demikian, penurunan dikompensasi melalui subsidi selisih bunga (SSB) yang ditambah, dari sebelumnya Rp312 miliar menjadi Rp615 miliar.




Rumah murah

Memasuki semester kedua tahun ini, PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk (BTN) tetap konsisten mempertahankan target dalam program sejuta rumah yang diusung pemerintah sejak April 2015.

Dalam kesempatan itu, perseroan menggandeng PT Karya Pama Marga Abadi menyediakan rumah tapak murah di Perumahan Pesona Bukit Batuah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang berlokasi di Batu Ampar, Balikpapan Timur, Kalimantan Timur.

Proyek rumah tapak tersebut dibangun di atas lahan seluas 21 hektare. Secara total, rumah yang akan dibangun mencapai sekitar 1.291 unit, yang diperuntukkan kalangan MBR. Peresmian proyek itu pun dihadiri Presiden Joko Widodo, kemarin.

Direktur Utama BTN Maryono menjelaskan, dari sekitar 428 rumah yang telah dibangun, akad KPR yang sudah ditandatangani mencapai 319 unit dan diakad lagi untuk sekitar 200 rumah. (Media Indonesia)


(AHL)