YLKI: Kasus Klaim Asuransi Allianz Harus Diusut Tuntas

Dian Ihsan Siregar    •    Sabtu, 30 Sep 2017 13:03 WIB
allianz
YLKI: Kasus Klaim Asuransi Allianz Harus Diusut Tuntas
Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. (FOTO: MI/MOHAMAD IRFAN).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasus klaim asuransi yang melibatkan PT Asuransi Allianz Life Indonesia harus diusut hingga tuntas. Langkah itu diharapkan bisa memberikan efek jera.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengungkapkan kasus ini sudah berjalan dua tahun. Pihak Allianz pun terbukti menyimpan bukti klaim yang seharusnya menjadi hak nasabah asuransi.

"Perlu dibongkar kasus ini. Karena dalam UU Perlindungan Konsumen, ketika konsumen dilanggar haknya, dia bisa menuntut secara pidana, perdata, dan arbitrase," jelas Tulus di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 30 September 2017.

‎Tulus mengaku dirinya mendapati beberapa kasus sejenis yang ujungnya adalah pidana, seperti kasus Beras Maknyus. Sehingga masyarakat harus diberdayakan dan diedukasi soal UU Perlindungan Konsumen, sehingga tidak bisa dirugikan.

"Karena dengan memberdayakan  konsumen dengan UU Perlindungan Konsumen, mereka akan mengerti, dan tidak ada lagi kasus begini, produsen harus bertanggung jawab kepada konsumen untuk penggantiannya," pungkas Tulus.




Sebelumnya, Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling, dan Manajer Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Yuliana Firmansyah, ditetapkan sebagai tersangka. Dalam waktu dekat keduanya akan diperiksa.

"Betul (jadi tersangka), nanti saya lihat rencana sidiknya ya," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan belum lama ini.

Sementara itu, kuasa hukum pihak pelapor, Alvin Lim mengatakan, kliennya yang bernama Ifranius Algadri telah melaporkan Joachim dan Yuliana. Ifranius merasa dipersulit saat meminta klaim biaya perawatan rumah sakit.

Alvin menjelaskan, pihak Allianz selalu meminta catatan medis lengkap dari rumah sakit sebagai syarat untuk mencairkan atau klaim. Padahal, rumah sakit tidak pernah memperkenankan memberi catatan medis lengkap karena melanggar Permenkes No 269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.

"Karena yang kami permasalahkan bukan lah dibayar atau tidak dibayarnya sebuah klaim. Tetapi bagaimana dia memproses klaim tersebut, ada unsur tipu daya," kata Alvin.

Dalam kasus ini Allianz diduga telah menipu sejumlah nasabahnya dengan proses klaim yang tidak mungkin bisa dipenuhi nasabah. Klaim nasabah akan hangus dalam waktu dua minggu kerja. "Kasus ini intinya perusahaan Allianz menggunakan modus tipu daya untuk menolak klaim nasabah secara halus tapi melanggar hukum. Dalam waktu dua minggu tanpa adanya surat lengkap rekam medis, klaim ditolak," terang Alvin.

Dalam waktu yang sama, Ifranius mengatakan, dirinya dipersulit dengan adanya aturan yang diminta pihak Allianz. Penolakan klaim biaya rumah sakit oleh Allianz didapatnya setelah menjalani perawatan pada tahun lalu di salah satu rumah sakit swasta.

"Waktu pertama gabung, bilangnya proses klaimnya gampang, 14 hari kerja kita bayarkan. Tapi pada nyatanya klaim saya hingga hari ini tidak dibayarkan. Saya sangat kecewa dengan Allianz," ungkap Ifranius.

Laporan terhadap, Joachim Wessling dan Yuliana Firmansyah tertera dalam Laporan Polisi Nomor: LP/1645/IV/2017/Dit Reskrimsus tanggal 3 April 2017 tentang diduga tindak pidana di bidang perlindungan konsumen dan Laporan Polisi Nomor: LP/1932/IV/2017/PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 18 April 2017.


(AHL)