Bertemu Wapres AS, Kalla Jelaskan Polemik Resolusi Sawit Eropa

Dheri Agriesta    •    Kamis, 20 Apr 2017 19:36 WIB
kelapa sawit
Bertemu Wapres AS, Kalla Jelaskan Polemik Resolusi Sawit Eropa
Wapres Jusuf Kalla (kanan). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean.

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla menyinggung polemik sawit akibat resolusi dari Uni Eropa (UE) dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Pence. Kalla mengemukakan masalah yang diributkan agar tak terjadi salah paham diantara kedua negara.

Kalla mengatakan, Indonesia mengekspor hasil pertanian ke Amerika Serikat. Komoditas crude palm oil (CPO) salah satu ekspor andalan Indonesia.

"Saya kemukakan masalahnya," kata Kalla di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis 20 April 2017.

baca : Kadin-Wapres AS akan Bahas Polemik Sawit

Kalla tak ingin terjadi salah paham terkait masalah ini. Namun, Kalla tak merinci bagaimana respons yang diberikan Pence terkait masalah ini.

"Jangan ada pihak-pihak yang ingin menganggap kita dumping soal itu. Sama sekali tidak ada," tegas Kalla.

Perkembangan isu sawit sebelumnya, ada langkah dari Parlemen Uni Eropa terhadap resolusi soal sawit dan pelarangan biodiesel berbasis sawit karena dianggap masih menciptakan banyak masalah dari deforestasi, korupsi, pekerja anak, sampai pelanggaran HAM.

Pemerintah Indonesia menilai Resolusi Parlemen Eropa tentang "Palm Oil and Deforestation of Rainforests" yang disahkan melalui pemungutan suara pada sesi pleno di Strasbourg 4 April 2017 mencerminkan tindakan diskriminatif minyak kelapa sawit.

"Tindakan diskriminatif ini berlawanan dengan posisi Uni Eropa sebagai champion of open, rules based free, and fair trade," berdasarkan pernyataan pers dari Kementerian Luar Negeri, menanggapi Resolusi Parlemen Eropa tentang minyak sawit.

Menurut pemerintah RI, Resolusi Parlemen Eropa menggunakan data dan informasi yang tidak akurat dan akuntabel terkait perkembangan minyak kelapa sawit dan manajemen kehutanan di negara-negara produsen minyak sawit, termasuk Indonesia.

Resolusi itu juga melalaikan pendekatan multistakeholders. Pemerintah Indonesia menekankan bahwa penanaman minyak sawit bukanlah penyebab utama kebotakan hutan atau deforestasi.

Berdasarkan kajian Komisi Eropa pada 2013, dari total 239 juta hektare (ha) lahan yang mengalami deforestasi secara global dalam kurun waktu 20 tahun, 58 juta ha terdeforestasi akibat sektor peternakan (livestock grazing), 13 juta ha akibat penanaman kedelai, delapan juta ha dari jagung, dan enam juta ha dari minyak sawit.

Dengan kata lain, total minyak sawit dunia hanya berkontribusi kurang lebih sebesar 2,5 persen terhadap deforestasi global. Bahkan menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita hal ini mengganggu perjanjian perdagangan antara Uni Eropa dan Indonesia.

"Kalau hal itu memang terjadi, berarti adalah tantangan perang dagang, dan bukan Indonesia yang memulai," tegasnya.




(SAW)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

5 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA