80% Orang Indonesia Belum Melek Finansial

Desi Angriani    •    Rabu, 02 Aug 2017 12:02 WIB
keuangan
80% Orang Indonesia Belum Melek Finansial
Direktur Retail Banking PermataBank Bianto Surodjo. (FOTO: MTVN/Desi Angriani)

Metrotvnews.com, Jakarta: PermataBank melakukan edukasi finansial terhadap generasi milenial, kelompok dreamer, dan kaum legacy dalam acara bertema 3 Season of Wealth di Ritz Carlton Pasific Place. Ketiga kelompok ini dianggap memiliki cara yang berbeda dalam mengelola kekayaan.

Direktur Retail Banking PermataBank Bianto Surodjo mengatakan, 80 persen dari orang Indonesia belum sadar finansial. Keuangan menjadi hal paling tabu nomor dua untuk dibicarakan.

"Maka memberikan edukasi yang menyeluruh merupakan misi PermataBank kepada jutaan keluarga Indonesia, di mana PermataBank ingin menanamkan melek financial sejak dini," katanya di Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Rabu 2 Agustus 2017.

Bianto memaparkan, generasi milenial baru memasuki dunia kerja di mana sumber pemasukan mereka masih terbatas. Kekayaan bagi kelompok ini dilambangkan dengan jumlah uang dalam tabungan, jumlah followers ataupun like di sosial media serta lifestyle kekinian.

Sementara, kelompok dreamer merupakan kelompok yang sudah berkeluarga dan memiliki bermacam-macam tujuan hidup serta tujuan finansial. Mereka akan terus meningkatkan standar kehidupan dan hal ini menjadi makna kekayaan bagi para dreamers.

Sedangkan kelompok legacy sudah mapan secara finansial sehingga makna kekayaan adalah bagaimana mereka bisa mewariskan hal tersebut ke generasi selanjutnya. Sebab itu, PermataBank memberikan edukasi menyeluruh agar setiap generasi dapat mengelola keuangan secara lebih baik.

"Dengan memahami makna dari setiap nilai uang yang dimiliki sejak dini diharapkan menghasilkan generasi yang dapat memiliki kehidupan yang lebih baik sampai pada masa legacy, di mana mereka harus menurunkan nilai-nilai tersebut kepada generasi penerus mereka," tuturnya.

Selain membahas tentang pengelolaan keuangan, Permatabank juga menghadirkan sejumlah ekonom untuk memaparkan tetang ketidakseimbangan ekonomi makro dan mikro, redenominasi rupiah hingga rencana pemindahan ibu kota.

Adapun pengetahun tentang setiap aspek tersebut dikemas secara apik dalam 20 sesi kelas yang dibawakan oleh para ekonom, pengusaha, psikolog dan public figure.

 


(AHL)