Petani Lebak Diminta Tingkatkan Produksi Kopi

   •    Minggu, 11 Mar 2018 13:30 WIB
kopi
Petani Lebak Diminta Tingkatkan Produksi Kopi
Kopi. Dok: Antara.

Lebak: Petani Kabupaten Lebak, Provinsi Banten diminta untuk meningkatkan produksi kopi sehingga menjadi salah satu produk unggulan perekonomian setempat.

"Kita setiap tahun menyalurkan bantuan benih tanaman kopi kepada kelompok-kelompok tani karena permintaan pasar cenderung meningkat, jadi diharapkan petani bisa meningkatkan produksinya," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak dikutip dari Antara, Minggu, 11 Maret 2018.

Pemerintah daerah sangat berkomitmen untuk mengembangkan perkebunan kopi sehingga  bisa menjadikan kopi sebagai pendapatan unggulan masyarakat. Selama ini, perkebunan kopi milik masyarakat hanya dijadikan usaha sampingan dan tidak memberikan nilai tambah bagi pendapatan ekonomi mereka.

Padahal, kata dia, perkebunan kopi bisa membuat kehidupan petani menjadi lebih baik. Saat ini, permintaan kopi cenderung meningkat dan petani belum memenuhi permintaan pasar lokal tersebut. Bahkan, harga biji kopi lokal di Kabupaten Lebak berkisar antara Rp20 ribu sampai Rp22 ribu per kg.

"Kami mendorong petani agar mengembangkan tanaman kopi dan ke depan menjadikan andalan ekonomi mereka," katanya.

Menurut dia, saat ini areal perkebunan kopi milik masyarakat seluas 1.685 hektare (ha) dengan produksi 520 ton per tahun. Petani mengembangkan perkebunan kopi di lahan-lahan darat dengan ketinggian di atas 500 meter dari pemukaan laut.

Sebab wilayah Kabupaten Lebak relatif cocok untuk dijadikan pengembangan tanaman kopi. Pihaknya mendorong agar petani terus memperluas tanaman kopi sehingga bisa memenuhi permintaan pasar.

Produksi kopi dianggap sangat menjanjikan kesejahteraan pendapatan ekonomi petani. Selama ini, sentra komoditas kopi di Kabupaten Lebak tersebar di Kecamatan Cirinten, Bojongmanik, Cijaku, Cigemblong, Panggarangan, Cihara, Cibeber, Banjarsari, dan Gunungkencana.

"Penyaluran bantuan benih kopi bisa menghasilkan pendapatan antara empat sampai lima tahun," katanya menjelaskan.

Ujang, 50, petani di Kecamatan Cirinten Kabupaten Lebak mengaku mereka kini sedang mengembangkan perkebunan kopi karena bisa menjanjikan pendapatan ekonomi. Selama ini, ujar mereka, komoditas kopi cukup membantu pendapatan keluarga karena harganya cukup lumayan.

"Kami saat ini menanam kopi diintegrasikan dengan tanaman lain seluas dua hektare," jelas dia.

Sementara itu, sejumlah petani di Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak mengaku selama ini komoditas kopi lokal sangat membantu pendapatan ekonomi keluarga. Pendapatan produksi kopi bisa menjual sekitar lima ton per panen dengan menghasilkan pendapatan Rp15 juta per panen.

"Kami menanam kopi lokal seluas dua hektare dan bisa dipanen setahun dua kali," kata Sarip, 55, seorang petani Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak.



(SAW)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

4 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA