Menaker Minta Masyarakat tak Khawatirkan Kedatangan Tenaga Kerja Asing

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 13 Oct 2016 14:54 WIB
tenaga kerja asing
Menaker Minta Masyarakat tak Khawatirkan Kedatangan Tenaga Kerja Asing
Menaker Hanif Dhakiri. (Foto Antara/Jafkhairi).

Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat khawatir tenaga kerja asing dari Tiongkok pelan-pelan mulai masuk ke Indonesia. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri meminta masyarakat tak perlu khawatir dengan tenaga kerja yang masuk itu.

"Kan saya berkali-kali merespons hal ini, saya jelaskan, anda harus bedakan antara tenaga kerja asing yang bekerja," kata Hanif di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (13/10/2016).

Tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia untuk bekerja pasti mengurus perizinan kerja, termasuk izin tinggal. Menurut Hanif, yang menjadi masalah, adalah warga negara asing yang masuk sebagai turis lalu bekerja di Indonesia.

"Itu yang kemudian dilakukan penidakan," tambah dia.

Hanif tak masalah jika tenaga kerja asing itu masuk secara legal dan tak melanggar aturan. Permasalahan yang harus diperhatikan, kata dia, bagaimana meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal agar bisa bersaing dengan tenaga kerja asing.

"Ini agar kompetitif bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara asing. Saya khawatir justru di level menengahnya, tenaga kerja dengan skill, profesional," kata dia.

Pemerintah tak tinggal diam. Kata dia, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menggenjot pendidikan dan pelatihan keterampilan untuk pekerja. Tenaga kerja diberikan reorientasi agar bisa meningkatkan kapasitas produksi.

Pemerintah, jelas dia, ingin memfokuskan kepada bidang tertentu yang sesuai dengan agenda pembangunan nasional. 

"Saya contohkan kita punya BLK (Balai Latihan Kerja) di Serang, banyak sekali bidangnya, kita coba kerucutkan jadi dua misalnya. Untuk Las dan otomotif. Yang biasanya satu tahun hanya produksi katakanlah sekitar 2000, kita tiga kali lipatkan jadi 6.000 setahun. Nah itu dalam rangka mempercapat sumber daya manusia yang skill dan mengatasi shortage pekerja skill," jelas Hanif.


 


(SAW)