Ini Penyebab Utama Mahalnya Harga Cabai Rawit Merah

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 09 Mar 2017 05:11 WIB
harga cabai
Ini Penyebab Utama Mahalnya Harga Cabai Rawit Merah
Pedagang menyortir cabai rawit merah di Pasar Peterongan, Semarang. (Foto: Antara/R. Rekotomo).

Metrotvnews.com, Jakarta: Simpul kusut permasalahan mahalnya harga cabai rawit merah di pasaran mulai terurai. Pemerintah mulai menemukan titik terang penyebab mahalnya harga cabai rawit merah.

Kerja sama antara Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) dibantu pihak Kepolisian mulai membuahkan hasil. Hal itu dibuktikan dengan penetapan tiga tersangka  dalam kasus monopoli harga cabai rawit merah.

Mereka adalah SJN, SNO, dan R. Ketiganya adalah pengepul cabai rawit merah di Jawa Tengah. "Kita sudah tetapkan tiga orang sebagai tersangka. Satu masih akan diperiksa besok," kata Kepala Bagian Penerangan Masyarakat (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul.

Akibat ulah segelintir oknum ini, harga komoditi pangan ini meroket tajam. Selain rasanya yang pedas, juga sangat mahal jika dibandingkan dengan komoditi pangan lainnya.

Mahalnya harga cabai rawit merah di beberapa daerah beragam. Namun, tetap di atas normal. Di Solo contohnya, hingga saat ini harga cabai rawit merah masih berkisar Rp120 per kilogram. Bahkan, bulan lalu di daerah lain seperti Jawa Timur sempat menyentuh Rp150 per kilogram.

Usut punya usut, mahalnya harga cabai rawit merah di beberapa daerah bukan karena kelangkaan stok akibat cuaca yang berujung pada gagal panen. Tapi, ulah nakal oknum pengepul yang lebih memilih menjual cabai rawit merah ke industri daripada ke pasar.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya menyebut 90 persen cabai rawit merah dipasok ke industri. Hanya 10 persen stok cabai rawit merah dioper ke pasar.

Agung menyebutkan, pasokan dari petani hingga pengepul aman. Namun, pengepul justru tidak mengoper pasokan tersebut ke pasar, justru ke industri.

"Pasokan di petani aman. Tapi yang harusnya dipasok ke pasar induk malah ke industri makanan," kata Agung.

Pernyataan Agung dibenarkan oleh Sekjen Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih. Dia mencontohkan pasokan cabai rawit merah yang turun bebas di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

Biasanya, pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati mencapai 40 ton setiap harinya. Namun, belakangan jumlah tersebut menurun hingga 9 ton. Sehingga terjadi kelangkaan.

Lalu, apa yang membuat pengepul lebih memilih industri daripada menjualnya ke masyarakat? Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan, alasannya karena diming-imingi harga yang tinggi oleh pihak industri.

Berdasarkan penyelidikan KPPU, pihak industri berani menebus cabai rawit merah dengan harga Rp181 ribu per kilogram. Imbasnya, pasokan cabe rawit merah ke pasar induk berkurang dan akhirnya masyarakat menjerit karena mahalnya harga cabai merah rawit.

Oleh karena itu, pemerintah tidak akan mentolerir praktek monopoli harga. Syarkawi menegaskan, bila terbukti perusahaan terlibat memainkan harga cabai, KPPU tidak segan melakukan pencabutan izin usaha.

Diharapkan, ketegasan itu bisa diwujudkan. Sehingga, masyarakat tidak lagi harus menahan selera menyantap makanan pedas hanya karena ulah segelintir oknum yang menginginkan keuntungan berlipat ganda dari seonggok cabai rawit merah.
 


(HUS)