Industri Logistik Bisa Topang Perekonomian Lokal

Desi Angriani    •    Rabu, 25 Jul 2018 21:06 WIB
logistikjne
Industri Logistik Bisa Topang Perekonomian Lokal
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi)

Jakarta: Pasang surut industri logistik nasional masih terus bersinggungan dengan berbagai kendala berupa penyediaan infrastruktur, penerapan sistem, kompetensi para pelaku dan penyedia jasa logistik hingga ongkos distribusi yang tinggi.

Kondisi tersebut membuat posisi Indonesia berada pada peringkat ke-63 dari 155 negara berdasarkan survei Indeks Kinerja Logistik (IKL) pada 2016. Bahkan Indonesia berada di bawah kinerja beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Padahal Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan potensi penawaran dan permintaan distribusi yang besar pula. Bahkan nilai tambah tersebut dipercaya dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.

Jika dilihat pada 2011, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) industri logistik hanya USD5 miliar dalam kurs tahun berjalan. Angka ini sempat sedikit turun pada 2013 dan kembali menanjak menjadi USD6,77 miliar. Sayangnya, angka itu masih jauh dari target lantaran perekonomian nasional mengalami perlambatan.

Karenanya pemerintah melakukan perubahan deregulasi dan pembangunan infrastruktur di pelosok negeri sehingga ongkos logistik mulai turun. Tercatat perbandingan biaya logistik terhadap PDB turun 2,2 poin dari 25,7 persen menjadi 23,5 persen sejak 2013 hingga 2017.

Menurut Global Vice President of Transportation and Logistics Practice Frost and Sullivan Gopal R, industri logistik Indonesia berpotensi tumbuh 7,1 persen setiap tahun atau mencapai Rp4.396 triliun sampai 2020.

Peningkatan tersebut harus dibarengi dengan penguatan industri manufaktur dalam negeri, penguatan jasa layanan logistik khususnya kargo, dan penggunaan jasa logistik dalam e-commerce atau perdagangan elektronik.

"Peningkatan demand impor dan penjualan online bakal menambah kebutuhan logistik, termasuk seperti fasilitas cold storage," katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Logistik Zaldi Ilham Masita menyebut pertumbuhan kinerja logistik masih terganggu oleh tingginya pungutan logistik secara liar maupun resmi. Namun pembangunan infrastruktur berupa banyaknya pilihan moda transportasi telah memberikan dampak positif bagi sektor logistik.

Tercatat pertumbuhan logistik di paruh pertama tahun ini lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi nasional yakni, sebesar 12 persen. Hal itu dipicu oleh membaiknya harga barang tambang, infrastruktur logistik, dan perkembangan e-commerce.

"Untuk tahun depan, kita berharap bisa growth juga sekitar 10-12 persen kalau ekonomi dunia membaik," ungkapnya saat dihubungi Medcom.id di Jakarta.

Terkait sumbangsih industri logistik ke perekonomian lokal, Zaldi menilai hal itu tak terlepas dari dorongan sektor e-commerce. Di mana lewat perdagangan elektronik, potensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di seluruh wilayah Indonesia dapat dioptimalkan. Selain memudahkan pemasaran, bertransaksi, maupun pengenalan produk, pemanfaatan teknologi diyakini mampu menghemat beban biaya operasional.

"Logistik di daerah bisa tumbuh kalau ekonomi di daerah tumbuh, salah satu jalannya dengan e-commerce. Tapi masih banyak hambatan untuk tumbuhnya UMKM di daerah. Logistik pada intinya sebagai supporting," tambahnya.




E-commerce Dorong Pertumbuhan Logistisk

Perdagangan elekronik atau e-commerce sempat disebut sebagai wabah belanja online bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya sebanyak 50 juta orang dari 150 juta pengguna internet di Tanah Air mengalami pergeseran pola belanja dari konvensional menjadi berbasis online. penggunaan paling banyak terdapat pada online shopping dan aplikasi ojek online.

Menurut riset Savills Plc pada Desember 2017, kontribusi e-commerce diperkirakan akan mencapai 7-8 persen atau senilai USD14,47 miliar pada 2021 atau meningkat 2,08 kali lipat dengan pertumbuhan 20 persen per tahun. Dengan begitu ekspansi e-commerce akan menjadi tulang punggung baru bagi sektor logistik, yang sebelumnya bersandar pada industri manufaktur.

Hal ini pun diakui oleh Presiden Direktur JNE Muhammad Feriadi. Dari total 70 persen jasa pengiriman ritel di JNE, 50 persen di antaranya merupakan transaksi online.

"Dan semua e-commerce tentu juga memerlukan dukungan dari delivery yang cepat, karena yang dijual e-commerce kan data, kalau tidak didukung dengan pengiriman yang cepat, maka bisa membuat e-commerce tidak bisa bersaing," tuturnya.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menambahkan, industri e-commerce tidak hanya mengubah gaya hidup masyarakat, tetapi juga perubahan pola distribusi dan peningkatan pergerakan angkutan udara.

Bila dilihat dari sisi volume, lalu lintas angkutan udara dalam negeri bisa mencapai angka pertumbuhan sekitar 5-6 persen dibandingkan tahun lalu.

"Kenaikan signifikan angkutan udara ini dibandingkan dengan angkutan lain yang dikaitkan dengan kegiatan e-commerce," jelasnya.

Adapun kebutuhan ruang gudang logistik diperkirakan meningkat sekitar 240 ribu meter persegi pada 2021. Saat ini, kontribusi penjualan terhadap total penjualan ritel hanya sebesar satu persen. Bisnis e-commerce sudah menyumbang tiga persen dari total pasokan 8,1 juta m2 gudang logistik.


(AHL)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA