19 Badan Usaha BBN Pasok 2,9 Juta KL FAME secara Bertahap

Husen Miftahudin    •    Kamis, 30 Aug 2018 19:46 WIB
kelapa sawit
19 Badan Usaha BBN Pasok 2,9 Juta KL FAME secara Bertahap
Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor. Medcom/Husen M.

Jakarta: Sebanyak 19 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) akan memasok 2,9 juta kiloliter (kl) minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Ke-19 BU BBN itu memasok minyak sawit kepada 11 Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM) untuk periode September-Desember 2018.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan penyaluran minyak sawit sebagai bahan campuran menjadi biodiesel itu dilakukan secara bertahap.

"Bukan berarti 1 September itu kemudian kita harus deliver (secara langsung) 2,9 juta kl, enggak. Ada empat bulan, kita kirimnya secara bertahap hingga Desember," ujar Tumanggor dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Kuningan Mulia, Jakarta Selatan, Kamis, 30 Agustus 2018.

BU BBN merupakan pemasok minyak sawit. Setelah dipasok, BU BBM wajib mencampur minyak sawit ke dalam bahan bakar jenis solar. Porsi minyak sawit yang harus dicampur ke dalam solar sebanyak 20 persen, sesuai dengan mandatori B20.

Adapun 19 BU BBN yang diberikan alokasi volume FAME di antaranya PT Cemerlang Energi Perkasa, PT Wilmar Bioenergi Indonesia, PT Pelita Agung Industri, PT Ciliandra Perkasa, PT Darmex Biofuels, PT Musim Mas, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Bayas Biofuels, PT LDC Indonesia, PT SMART Tbk, PT Tunas Baru Lampung, PT Multi Nabati Sulawesi, PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Intibenua Perkasatama, PT Batara Elok Semesta Terpadu, PT Dabi Biofuels, PT Sinarmas Bio Energy, PT Kutai Refinery Nusantara, dan PT Sukajadi Sawit Meka.

Sementara 11 BU BBM yaitu PT Pertamina, PT AKR Corporindo, PT Exxonmobil, PT Jasatama, PT Petro Andalan Nusantara, PT Shell Indonesia, pT Cosmic Indonesia, PT Cosmic Petroleum Nusantara, PT Energi Coal Prima, PT Petro Energy, serta PT Gasemas.

Implementasi B20 yang dimulai pada 1 September 2018 diatur berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan Menteri (Permen) ESDM. Tujuannya, untuk menekan lebarnya defisit neraca perdagangan nasional.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan menyampaikan kebijakan B20 saat ini baru diterapkan pada sektor bersubsidi atau penugasan yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Mulai 1 September 2018, kebijakan bauran solar dan biodiesel 20 persen itu diperluas ke sektor nonsubsidi.

"Ini merupakan upaya bersama, baik Pertamina dan BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) untuk membantu pemerintah. Sekarang (B20) mau diperluas," ungkapnya.

Untuk periode September-Desember 2018, Kementerian ESDM mengalokasikan volume BBN jenis biodiesel untuk pencampuran BBM nonsubsidi sebanyak 940.470 kl. Sementara alokasi volume B20 untuk BBM subsidi sebanyak 1,95 juta kl dengan periode yang sama.


(SAW)