Mendag Kampanye Sawit Berkelanjutan di Eropa

Ilham wibowo    •    Senin, 08 Oct 2018 16:53 WIB
kelapa sawitcpo
Mendag Kampanye Sawit Berkelanjutan di Eropa
Kelapa Sawit. MI/GINO F HADI.

Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyebut banyak persepsi keliru tentang kelapa sawit khususnya di kawasan Uni Eropa. Produsen minyak kelapa sawit pun perlu diyakinkan untuk bekerja sama melawan kampanye negatif.  

"Kita semua yang terlibat dan berperan di industri sawit harus menggencarkan kampanye positif agar pemberitaan menjadi lebih berimbang dan masyarakat internasional lebih paham peran sawit bagi pembangunan berkelanjutan,” kata Enggar melalui keterangan resmi, Senin, 8 Oktober 2018.

Hal tersebut disampaikan Menteri Enggar saat menjadi pembicara pada pertemuan Konferensi Minyak Kelapa Sawit Eropa (EPOAC) di Madrid, Spanyol, akhir pekan lalu. Konferensi yang diinisiasi oleh European Palm Oil Aliance (EPOA) itu mengambil tema How Sustainable Palm Oil Contributes to the UN Sustainable Development Goals.

Pada kesempatan tersebut, Enggar menginformasikan perkembangan terkini terkait kebijakan Moratorium Sawit. Kebijakan itu ditandatangani Presiden Joko Widodo melalui Inpres Nomor 8 tanggal 13 September 2018 mengatur Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit.

"Indonesia telah menunjukkan komitmen terkait kontribusi sawit terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) dengan mengeluarkan moratorium kelapa sawit," tegasnya.

Pemerintah juga telah membentuk Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) sebagai standar nasional minyak sawit pertama di dunia. Kebijakan itu diluncurkan guna memastikan semua pengusaha kelapa sawit memenuhi aturan pertanian yang diizinkan dan sesuai dengan keberlanjutan lingkungan.

Minyak kelapa sawit dinilai bukan komoditas biasa bagi Indonesia. Komoditas itu memainkan peran penting dalam perekonomian dan menyediakan lapangan kerja bagi 5,3 juta orang serta memberikan penghidupan bagi 21 juta orang di seluruh Tanah Air.

“Sejak pertengahan 2000, ekspor minyak kelapa sawit telah menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah untuk mendorong pembangunan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan di Indonesia," tuturnya.

Dalam upaya menggalang kekuatan melawan kampanye hitam, Enggar juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Industri Utama Malaysia Teresa Koh Sum Sim.

“Indonesia dan Malaysia akan bekerja sama menyusun strategi dan mengampanyekan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan untuk melawan kampanye negatif,” pungkasnya.

Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa pada 2017 tercatat sebesar USD3,83 miliar, naik 35,27 persen dari tahun sebelumnya yang hanya USD2,83 miliar. Secara rinci, ekspor komoditas tersebut ke Spanyol pada 2017 sebesar USD1,17 miliar. Melonjak signifikan sebesar 98,38 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat USD795,09 juta.


(SAW)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA