PT PII Kembali Sabet ASEAN Risk Awards

   •    Jumat, 07 Dec 2018 15:00 WIB
penjaminan infrastruktur indonesia
PT PII Kembali Sabet ASEAN Risk Awards
Direktur Utama PT PII Armand Hermawan (kiri). Foto: Ist

Jakarta: PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) kembali menyabet penghargaan ASEAN Risk Awards. BUMN yang berada di bawah Kementerian Keuangan RI itu menerima penghargaan ketiga kalinya.
 
Penghargaan tersebut diterima oleh Direktur Utama PT PII Armand Hermawan.
 
"Sebagai BUMN, PT PII mempertahankan performa perusahaan, termasuk dalam hal manajemen risiko yang inovatif, dan mengacu pada solusi maupun ide kreatif dalam mengedepankan kepentingan umum," kata Armand dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 7 Desember 2018.
 
Sejak 2016, PT PII meraih penghargaan untuk kategori Risk Advocate dalam ASEAN Risk Awards. Penghargaan itu merupakan ajang penganugerahan yang diselenggarakan oleh Enterprise Risk Management Academy (ERMA) untuk seluruh perusahaan yang telah menerapkan manajemen risiko dengan berbagai ukuran bisnis, jenis industri, maupun negara asal, serta mempunyai semangat yang sama dalam meningkatkan model pengelolaan risiko yang terbaik.
 
Dalam proses penjuriannya, ASEAN Risk Awards melibatkan para profesional yang memiliki latar belakang di bidang manajemen risiko, auditor, bisnis dan hubungan internasional yang berasal dari berbagai Negara.
 
Di penghujung 2018, Armand menyebut kinerja perseroan tetap positif dan dia yakin proyeksi ke depan akan tetap cerah. 
 
Hingga kuartal I/2019, PII membidik penjaminan 23 proyek dengan nilai penjaminan sebesar Rp42 triliun. Adapun, investasi 23 proyek tersebut mencapai Rp210 triliun.

Baca: PII Tawarkan Proyek Infrastruktur Senilai Rp4,75 Triliun

Beberapa proyek infrastruktur yang akan dijamin oleh PII antara lain, Kereta Api Makassar Parepare, Satelit Multifungsi, Preservasi Jalan Lintas Timur Sumatra, dan SPAM Jatiluhur I.
 
Genjot Infrastruktur
 
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan gencarnya pembangunan infrasruktur yang dilakukan pemerintah bukan untuk pamer kinerja atau sekedar hobi, tapi karena infrastruktur di Indonesia perlu ditingkatkan.
 
Menurut Sri Mulyani infrastruktur Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga, bahkan kalah dengan Thailand yang waktu 1997 menjadi awal krisis ekonomi di Asia.
 
"Thailand sekarang sangat maju infrastrukturnya. Indonesia sangat tertinggal dan stagnan. Sementara perkembangan ekonomi terus berlanjut," kata Sri Mulyani.
 
Dia menjelaskan, jika pertumbuhan ekonomi terus digenjot tanpa memikirkan ketersediaan infrastruktur, maka biaya-biaya akan semakin mahal. Ujungnya pertumbuhan ekonomi akan melambat.




(FZN)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

3 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA