Sektor Farmasi Sangat Bergantung dengan Garam

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 20 Mar 2018 19:47 WIB
garam
Sektor Farmasi Sangat Bergantung dengan Garam
Petani Garam. MI/Gino F Hadi.

Jakarta: Industri farmasi merupakan salah satu industri yang sangat bergantung dengan industri garam. Namun, banyak perusahaan farmasi yang tak mendapatkan garam untuk diolah kembali.

Pernyataan itu disampaikan oleh ‎Plant Manager PT Intan Jaya Medeka Solusi, Rudi Santoso, ‎ditemui di Gedung Kemenperin, Jakarta, Selasa, 20 Maret 2018.

Rudi mengaku, perusahaan ditempat dia bekerja sangat kesulitan untuk mendapatkan garam. Padahal, seiring peningkatan anggota BPJS Kesehatan, maka kebutuhan akan obat-obatan dan alat kesehatan semakin meningkat.‎ Sepanjang‎ tahun ini saja kebutuhan garam untuk industri mencapai 6.846 ton. ‎

"Ini penting (garam). Sekarang BPJS Kesehatan pelanggan saya. Memang di 2017 agak sulit untuk impor garam," tutur dia.

Setiap tahun, lanjut dia, industri farmasi membutuhkan garam sebanyak 6.000 ton. Walaupun begitu, kebutuhan garam di sektor farmasih akan semakin meningkat. ‎

"Kami impor sebetulnya tidak terlalu banyak. Hanya 1.200 ton - 1.300 ton. Kalau dari semua farmasi, 5.000 ton-6.000 ton. Sekarang mungkin bisa 8.000 ton-10 ribu ton. Karena trennya cukup tinggi. Sekarang kan BPJS ke cover semua," tuturnya.

Perusahaan, sambung dia, juga telah menggunakan garam lokal untuk kebutuhan produksinya. Tapi, ternyata garam tersebut tidak cocok bahkan menyebabkan kejang-kejang pasien yang menggunakan produk farmasi yang dimiliki perusahaan.

"Kami juga pernah melakukan modifikasi produk, menggunakan garam lokal yang (kualitas) agak tinggi, enggak bisa masuk. Di Bali, pasiennya kejang-kejang, karena kurang tingkat kemurnian garamnya, harus 99 persen, bahkan harus 100 persen," tukas dia.


(SAW)