Alokasi Garam Impor belum Jelas

   •    Kamis, 10 Aug 2017 10:09 WIB
garamproduksi garam
Alokasi Garam Impor belum Jelas
Ilustrasi petani garam. (FOTO: ANTARA/Saiful)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah akhirnya jadi mengimpor garam untuk kebutuhan konsumsi. Komoditas yang didatangkan dari Australia itu, hari ini, bakal resmi masuk secara bertahap, diawali di Pelabuhan Ciwandan, Banten, sebanyak 25 ribu ton.

Sekretaris Perusahaan PT Garam (persero) Hartono mengungkapkan, setelah di Banten, garam impor itu akan didatangkan ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada 11 Agustus 2017 sebanyak 27.500 ton dan ke Pelabuhan Belawan, Medan, 22.500 ton pada 22 Agustus 2017.

"Jadi total yang masuk sesuai izin impor 75 ribu ton," papar Hartono kepada Media Indonesia, Rabu 9 Agustus 2017.

Namun, dia belum tahu garam impor tersebut akan dialokasikan ke mana. Pemerintah belum memberikan data kebutuhan industri kecil dan menengah (IKM) yang akan mengolah garam bahan baku konsumsi untuk kemudian dijual ke pasar.

PT Garam harus menunggu verifikasi IKM dari Kementerian Perindustrian karena dalam rekomendasi izin impor dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), garam impor itu diprioritaskan untuk IKM. Hartono menilai sangat mungkin IKM yang akan menikmati alokasi garam impor ialah industri yang berada di sekitar Pelabuhan Ciwandan, Tanjung Perak, dan Belawan.

"Untuk IKM masih menunggu verifikasi dari Kementerian Perindustrian dan harga (jual) dalam porses penentuan dengan memperhatikan mekanisme pasar oleh tim," tukasnya.

Saat ditemui di kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui verifikasi IKM penerima garam impor bahan baku konsumsi sudah rampung. Namun, ia belum bisa menyebut jumlah IKM yang menerima alokasi garam.

"Kalau verifikasi dari kami sudah selesai. (Jumlahnya) ada banyak," ujarnya singkat.

Selain garam impor dari Australia itu, PT Garam sudah menerima garam impor yang bermasalah dari Bareskrim Polri. Sebanyak 12 ribu ton garam impor yang sempat disegel aparat beberapa waktu lalu sudah berada di tangan PT Garam.




Kebutuhan Mendesak

Hartono menilai masyarakat sudah sangat membutuhkan pasokan garam konsumsi sehingga segel garam impor itu dibuka. Selain itu, garam itu dibutuhkan untuk menstabilkan harga yang saat ini masih melambung tinggi.

"Yang disegel di Jawa Timur itu sebagian sudah dialokasikan ke IKM di Jawa Tengah sebanyak 1.000 ton," tukas Hartono.

Untuk diketahui, kenaikan harga garam dalam beberapa waktu terakhir melonjak drastis. Stok yang ada di pasaran pun terus menipis dan habis. Apalagi produksi industri garam dalam negeri masih rendah dan terus berkurang karena kondisi cuaca yang tak menentu. Untuk mencukupi kebutuhan ini, pemerintah mengimpor garam.

Ketua Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia (Apgasi) Jawa Barat M Taufik mengatakan keputusan pemerintah mengimpor 75 ribu ton garam konsumsi hingga Agustus dianggap sudah memadai. Namun, dia meminta pemerintah harus menghentikan impor saat petani garam dalam negeri memasuki puncak produksi akhir bulan ini agar tak membuat harga garam lokal anjlok.

Kebutuhan akan garam tak hanya untuk konsumsi. Para pelaku usaha industri kaca di Tanah Air pun meminta ketersediaan bahan baku seperti garam. Hal itu disebabkan mereka menambah kapasitas produksi guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus membidik pasar ekspor. (Media Indonesia)

 


(AHL)